ilustrasi(Antara)
Rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Kamis (10/9). Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah terkoreksi 36 poin ke level Rp17.547 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh pelemahan hingga 40 poin. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.511 per dolar AS.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memprediksi untuk perdagangan Jumat (11/9), Rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS.
Risiko Fiskal dan Harga Minyak Dunia
Ibrahim menyampaikan bahwa stabilitas perekonomian nasional saat ini dibayangi oleh risiko fiskal akibat tingginya harga minyak mentah dunia. Meskipun pemerintah mengklaim posisi anggaran negara masih aman, lonjakan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran pada beban belanja negara.
Kenaikan harga minyak secara otomatis akan membengkakkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, khususnya BBM dan LPG. "Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (10/9).
Selain beban APBN, tingginya impor minyak yang mahal juga meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS. Kondisi ini secara langsung memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah di pasar spot.
Ringkasan Pergerakan Rupiah Hari Ini (10 September)
| Posisi Penutupan | Rp17.547 per Dolar AS |
| Perubahan | Melemah 36 Poin (0,21%) |
| Penutupan Sebelumnya | Rp17.511 per Dolar AS |
| Prediksi Besok | Rp17.540 - Rp17.590 |
Daya Beli dan Fenomena 'Makan Tabungan'
Ibrahim juga menyoroti dampak lanjutan jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik demi menjaga kesinambungan fiskal. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat secara signifikan.
Sejauh ini, pemerintah masih mengandalkan fiscal buffer atau bantal fiskal yang berasal dari kenaikan pendapatan ekspor komoditas lain (windfall profit). Namun, ketidakpastian pasar global menuntut kewaspadaan tinggi terhadap kesinambungan anggaran.
Di sisi lain, pelemahan Rupiah sedikit tertahan oleh sentimen positif konsumen bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Hal ini didorong oleh persepsi kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang cerah.
Meski demikian, Ibrahim memberikan catatan kritis terkait pola konsumsi masyarakat saat ini. "Peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat. Demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat fenomena makan tabungan," pungkasnya. (E-3)








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)









