Banjir di Nepal.(Al Jazeera)
HARAPAN baru muncul di tengah bencana banjir bandang dahsyat yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet. Pejabat pemerintah Nepal mengonfirmasi pada Selasa (1/9/2026) bahwa tim penyelamat berhasil menjalin kontak dengan salah satu dari puluhan warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya dinyatakan hilang.
Hingga saat ini, sekitar 85 warga AS masih masuk dalam daftar pencarian. Kabar mengenai ada kontak dengan salah satu korban memberikan secercah harapan bagi ribuan keluarga di seluruh dunia yang masih menanti kabar orang tercinta mereka.
Skala Bencana yang Menghancurkan
Data terbaru menunjukkan skala kerusakan yang sangat masif. Di Nepal saja, lebih dari 4.600 orang diyakini masih hilang, dengan jumlah korban tewas yang dikonfirmasi mencapai sedikitnya 1.050 jiwa hingga Selasa (1/9). Sementara itu, otoritas Tiongkok mengonfirmasi 16 orang tewas di wilayah Tibet dengan lebih dari 550 orang lain masih hilang.
Berdasarkan dokumen resmi dari Nepal Tourism Board, hingga Senin malam, tim penyelamat berhasil menjalin kontak dengan lima warga negara asing, termasuk satu warga AS yang belum diidentifikasi, tiga warga Spanyol, dan satu warga Belgia. Secara total, 315 warga asing telah berhasil dievakuasi dari zona bencana.
Kesaksian Penyintas: Seperti Tsunami Hitam
Pasangan asal San Francisco Bay Area, Anjana Raja dan Pattabiraman Venkatesan, merupakan dua warga Amerika pertama yang diketahui berhasil diselamatkan. Mereka sedang dalam perjalanan ziarah ke Tibet ketika bencana melanda.
Venkatesan menggambarkan momen mengerikan saat banjir datang menerjang lembah ke arah bus tur mereka. "Tingginya sekitar 60 hingga 70 kaki, tampak seperti tsunami, tetapi berwarna hitam pekat," ujarnya. "Awalnya saya mengira itu api hutan karena penampakannya yang mengerikan."
Pasangan ini berhasil keluar dari bus dan berlari ke dataran tinggi. Mereka menghabiskan malam di suatu kandang kambing di puncak gunung sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan helikopter keesokan hari.
Pekerja Pembangkit Listrik Terjebak
Kekhawatiran besar juga tertuju pada sekitar 600 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang diyakini terjebak di dalam beberapa proyek di area bencana. Perdana Menteri Nepal menyatakan bahwa tim SAR terus berupaya membersihkan terowongan yang tersumbat lumpur untuk mencapai para pekerja, di tengah kekhawatiran menipisnya pasokan oksigen di dalam terowongan.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya lereng gunung dan gletser di pegunungan Himalaya hampir seminggu yang lalu, yang memicu longsoran salju di Tibet dan Nepal, yang kemudian berujung pada banjir bandang yang menghancurkan.
Konteks Geografis: Sungai Trishuli yang dianggap suci dilaporkan meluap hingga mencapai level tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah wilayah tersebut.
Harapan di Tengah Kendala Komunikasi
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyatakan optimisme bahwa banyak warga asing yang hilang mungkin sebenarnya dalam kondisi aman namun terisolasi. Mengingat wilayah ini adalah jalur pendakian populer, banyak turis yang mungkin terjebak di pegunungan tanpa akses komunikasi.
"Kami berharap ini sebagian besar adalah tantangan komunikasi yang kami alami. Kami berharap jumlah korban hilang yang sebenarnya akan jauh lebih sedikit," pungkas Khanal. (CBS/I-2)


















































