Produksi Jahe Nasional Turun, Pakar IPB Tekankan Transformasi Agribisnis

4 hours ago 2
Produksi Jahe Nasional Turun, Pakar IPB Tekankan Transformasi Agribisnis Ilustrasi(magnific)

PENURUNAN produksi jahe nasional dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal kuat perlunya pembenahan menyeluruh pada sektor agribisnis rempah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini mengalami penyusutan yang cukup signifikan baik dari sisi volume produksi maupun luas lahan panen.

Data menunjukkan adanya tren penurunan yang perlu diwaspadai guna menjaga stabilitas pasokan dalam negeri. Berikut adalah perbandingan data produksi dan luas panen jahe nasional:

Indikator Tahun 2024 Tahun 2025 Penurunan
Produksi (Ribu Ton) 190,26 168,97 11,19%
Luas Panen (Ribu Hektare) 7,49 6,51 13,08%

Dosen Departemen Agribisnis IPB University, Dr Anisa Dwi Utami, menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan adanya tekanan serius pada sisi penawaran. Menurutnya, jika produksi terus menurun sementara permintaan tetap tinggi atau meningkat, harga di tingkat konsumen berpotensi melonjak dan ketergantungan pada pasokan luar negeri akan semakin besar.

"Jahe merupakan komoditas hortikultura strategis yang berperan sebagai bahan pangan, rempah, hingga bahan baku industri obat tradisional dan minuman herbal. Karena itu, penurunan produksi perlu menjadi perhatian bersama," ujar Dr Anisa.

Tantangan Struktural dan Kesenjangan Pasar

Meskipun Indonesia memiliki potensi produksi yang besar, Dr Anisa menyebutkan bahwa hal tersebut belum otomatis menjamin pemenuhan kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Impor masih sering dilakukan akibat adanya kesenjangan antara waktu produksi dengan kebutuhan pasar sepanjang tahun.

Selain masalah kontinuitas, perbedaan kualitas yang dibutuhkan industri serta keterbatasan produktivitas menjadi kendala utama. Dr Anisa menyoroti bahwa tantangan petani saat ini bukan sekadar teknik budi daya, melainkan struktur usaha tani yang masih didominasi skala kecil dan tersebar.

"Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi relatif tinggi, adopsi teknologi berjalan lambat, akses pembiayaan terbatas, serta posisi tawar petani dalam rantai pasok menjadi lemah," tambahnya.

Transformasi Melalui Penguatan Kelembagaan

Sebagai solusi mendesak, Dr Anisa mendorong transformasi usaha tani jahe agar lebih terorganisasi dan memiliki skala ekonomi yang memadai. Penguatan kelembagaan melalui koperasi, kelompok tani, maupun kemitraan strategis dengan industri dinilai sebagai langkah kunci.

Dengan kelembagaan yang kuat, petani akan lebih mudah mengakses benih unggul, teknologi modern, serta pembiayaan. Hal ini juga memberikan kepastian pasar sehingga produksi dapat meningkat secara berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa prioritas utama untuk mengurangi impor bukanlah sekadar membatasi perdagangan, melainkan membangun sistem agribisnis yang efisien. Pengembangan kawasan sentra jahe dan kemitraan erat dengan industri pengolahan menjadi pilar utama untuk meningkatkan daya saing nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis rempah di Indonesia. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |