Kenali Tanda Kecemasan Anak Saat Masuk Sekolah Baru Menurut Psikolog

5 hours ago 1
Kenali Tanda Kecemasan Anak Saat Masuk Sekolah Baru Menurut Psikolog Anggota Komunitas Badut Cimahi membagikan makanan bergizi gratis kepada murid baru saat kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di kompleks SDN Cibeber, Kota Cimahi, Jawa Barat, Selasa (14/7/2026).(ANTARA/Abdan Syakura)

MEMASUKI lingkungan sekolah baru merupakan fase krusial bagi anak-anak yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi. Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., mengingatkan pentingnya orangtua dan guru untuk peka terhadap tanda-tanda kecemasan yang mungkin muncul pada periode ini.

Vera menjelaskan bahwa kecemasan saat masa awal sekolah sering kali bermanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari reaksi emosional hingga keluhan fisik yang tidak memiliki dasar medis.

"Anak bisa mengeluh sakit perut, mual, pusing, atau keluhan fisik lain padahal tidak ada gangguan medis, terutama menjelang berangkat sekolah," ujar Vera, saat dihubungi pada Selasa (14/7).

Selain keluhan fisik, anak yang mengalami kecemasan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih dependen atau bergantung pada orang tua. Hal ini bisa terlihat dari tangisan yang berlebihan, penolakan untuk masuk ke kelas, hingga terus-menerus menanyakan hal yang sama, seperti siapa yang akan menjemput mereka nantinya.

Berikut adalah rangkuman tanda-tanda kecemasan pada anak saat memasuki lingkungan sekolah baru menurut Vera Itabiliana:

Kategori Gejala Manifestasi Perilaku
Reaksi Fisik Sakit perut, mual, pusing (tanpa gangguan medis), terutama sebelum berangkat sekolah.
Perilaku Emosional Menangis berlebihan, rewel, mudah marah, lebih pendiam, atau menarik diri dari lingkungan.
Interaksi Sosial Enggan berinteraksi dengan guru atau teman, kehilangan minat bermain, sulit berkonsentrasi.
Kemunduran (Regresi) Kembali mengompol atau menjadi sangat bergantung (clinging) kepada orang tua.

Vera menekankan bahwa jika tanda-tanda tersebut menetap selama beberapa minggu atau intensitasnya tidak kunjung berkurang, orang tua perlu mengambil langkah serius. Kondisi yang semakin berat hingga membuat anak tidak mampu mengikuti kegiatan sekolah sama sekali memerlukan penanganan dari tenaga ahli.

"Sebaiknya orang tua segera berkonsultasi dengan psikolog dan bekerja sama dengan pihak sekolah secara lebih intensif," tambahnya.

Lebih lanjut, kolaborasi antara pihak rumah dan sekolah menjadi kunci utama. Guru dan orangtua diharapkan dapat menciptakan sinergi untuk membantu anak merasa aman dan nyaman di lingkungan barunya, sehingga proses adaptasi dapat berjalan lebih optimal. (Ant/Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |