Ilustrasi: Seorang anak melintas di depan mural bergambar bintang sepak bola Argentina Lionel Messi dan legenda sepak bola Diego Maradona di Kelurahan Kampung Pisang, Ternate, Maluku Utara, Rabu (8/7/2026).(ANTARAFOTO/Andri Saputra)
INGGRIS dan Argentina akan bertarung pada laga semifinal di Stadion Dallas, Texas, Kamis (16/7) dini hari WIB. Kendati pertemuan kedua negara di panggung dunia sudah terjadi berulang kali, bentrokan mereka selalu diiringi embusan sentimen akibat sejarah Perang Malvinas.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, sebenarnya berupaya keras meredam segala drama di luar lapangan hijau. Dengan ketus, ia langsung memotong pertanyaan jurnalis pascakemenangan dramatis timnya atas Swiss di babak perempat final.
"Ini hanya pertandingan sepak bola, oke?" tegasnya.
Namun, Scaloni tentu tahu, sejarah selalu menolak dilupakan begitu saja saat kedua tim sudah berhadapan di atas rumput hijau. Bagi publik Argentina, laga semifinal melawan Inggris bukan sekadar duel memperebutkan tiket final. Ini adalah sebuah ritus tahunan untuk merawat ingatan kolektif bangsa atas trauma sosiologis Perang Malvinas pada tahun 1982 yang lukanya belum sepenuhnya pulih.
Empat dekade silam, Diego Maradona melakukan penolakan yang sama di depan media sebelum laga perempat final Piala Dunia 1986. Namun, di dalam lorong stadion, emosi patriotisme tidak lagi bisa dibendung. "Mereka membunuh tetangga dan kerabat kita," bisik Maradona kepada rekan-rekannya sebelum merobek pertahanan Inggris dengan "Tangan Tuhan" dan gol abad ini.
Romantisme dan dendam masa lalu itulah yang kini dihidupkan kembali di media sosial, dinyanyikan di tribune stadion, dan dipatri di dada para pemain Albiceleste. Melalui lagu La Cuarta Estrella yang menggema di ruang ganti, skuat Argentina menegaskan bahwa perjuangan mereka di Amerika Serikat didedikasikan untuk tiga hal yaitu Malvinas, Diego Maradona, dan trofi penutup bagi Lionel Messi.
Kehadiran spiritual Maradona seolah enggan beranjak dari skuat Argentina. Di saat armada Scaloni tampil kurang meyakinkan dan harus memeras keringat hingga 240 menit dalam sepekan terakhir, faktor non-teknis berupa "intervensi mental" dari memori Maradona kerap menjadi pembeda di tengah situasi buntu.
Bagi Lionel Messi, laga ini membawa signifikansi personal yang mendalam. Di usia senjanya, sang suksesor takhta Maradona tersebut belum pernah sekalipun menghadapi tim nasional Inggris dalam laga kompetitif. Kendati Messi menjawab pertanyaan media dengan diplomatis dan dingin, publik mahfum bahwa laga ini adalah pertaruhan terbesar dalam babak akhir karier internasionalnya.
Di Atlanta, ketika genderang perang sepak mula ditabuh, taktik dan strategi di atas kertas mungkin akan melebur. Argentina akan turun ke lapangan tidak hanya dengan membawa bola, tetapi juga dengan memori kolektif bangsa, bayang-bayang sang legenda, dan misi suci mengantar sang Mesias menuju podium tertinggi.
(Theguardian/P-4)


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)















