(Dok. Pribadi)
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan pentingnya guru memahami prinsip less but more dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pada suatu kesempatan Mendikdasmen menegaskan, “Pembelajaran mendalam itu tidak harus banyak-banyakan materi. Karakternya adalah sempit alias sedikit, tetapi mendalam. Prinsipnya, less but more atau when less is more.”
Penegasan Mendikdasmen itu berarti bahwa prinsip less but more dalam pembelajaran mendalam lebih menekankan pada kedalaman pembahasan setiap materi. Bukan seberapa banyak materi yang telah diajarkan guru pada murid. Dengan kata lain, guru tidak lagi diarahkan untuk mengajarkan materi yang terlalu padat. Materi pelajaran dapat dirancang lebih ringkas, tetapi pembahasannya meluas dan mendalam.
Prinsip less but more juga memungkinkan guru melakukan pembelajaran dengan mengaitkan antarmateri, bahkan antarmata pelajaran. Metode ini tentu meniscayakan guru banyak membaca dan memahami materi yang saling berhubungan.
Dengan demikian, akan terjadi pembelajaran lintas disiplin (interdisciplinary learning). Metode ini juga memungkinkan terjadinya ‘tegur sapa’ antardisiplin ilmu sehingga tidak terjadi pembelajaran yang terpisah (separated learning). Bahkan ruang lingkup pembelajaran dapat diperluas melalui hidden curriculum berupa kegiatan sosial, kepemimpinan, dan pengalaman nyata dalam kehidupan.
MEMPERBANYAK REFLEKSI
Untuk mengimplementasikan prinsip less but more secara lebih baik, guru penting melakukan refleksi pada setiap akhir pembelajaran. Guru dapat membandingkan pola pembelajaran lama dengan model pempelajaran mendalam. Layaknya becermin, refleksi penting untuk melihat kembali keseluruhan proses belajar mengajar. Melalui kegiatan refleksi, guru akan memperoleh umpan balik (feedback) untuk melihat kelebihan dan kekurangan. Tidak banyak guru yang berani becermin dari proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Padahal langkah ini penting sebagai evaluasi untuk memperbaiki mutu pembelajaran.
Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang disusun oleh Suyanto dan Tim (2025), dikatakan bahwa refleksi merupakan tahap penutup dari tiga siklus pengalaman utama dari proses belajar mengajar, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Tiga tahap ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam.
Prinsip less but more sekaligus ingin meluruskan pendekatan pembelajaran lama yang hanya berorientasi ketuntasan materi, apalagi sekadar berujung pada hafalan. Sebab, sangat mungkin seorang murid hafal banyak materi pelajaran, tetapi tidak memahami dengan baik apa yang dihafalkan. Padahal dalam pembelajaran, kualitas pemahaman jauh lebih penting daripada kuantitas hafalan.
Karena itulah, paradigma pembelajaran lama yang mengharuskan guru mengejar target penuntasan materi, penting diubah. Apalagi dalam pola pembelajaran lama itu guru seolah tidak peduli apakah murid sudah memahami dengan baik materi yang disampaikan. Untuk itulah guru tidak boleh berpandangan bahwa yang terpenting ialah menuntaskan materi sesuai tuntutan kurikulum. Bahkan terkadang murid dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak berkorelasi dengan kehidupan nyata di sekitarnya. Padahal, pendidikan yang baik seharusnya mendekatkan anak pada pengalaman nyata dalam kehidupan.
MEMAHAMI FILOSOFI
Pendekatan pembelajaran mendalam ingin memastikan bahwa murid benar-benar hadir secara utuh, memaknai pengalaman belajarnya, dan tidak sekadar menjalani aktivitas permukaan (surface learning). Proses belajar mengajar juga bukan sekadar mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge). Lebih dari itu, pembelajaran harus mampu mengubah cara berpikir dan perilaku anak.
Pada konteks itulah pendekatan pembelajaran mendalam hadir untuk mengajak murid belajar sesuatu yang benar-benar baru dan sesuai dengan tantangan kehidupan. Boleh jadi materi yang diajarkan guru tidak terlampau banyak alias sedikit (less), tetapi materi dibahas secara mendalam. Dengan cara ini murid akan memperoleh banyak pengalaman kehidupan di alam nyata (more).
Tugas guru ialah mengajak murid belajar dengan penuh kesadaran (mindful learning), yakni kesadaran mengenai pentingnya pendidikan untuk merancang masa depan. Kesadaran ini akan mejadikan anak-anak mencintai ilmu sehingga menumbuhkan sikap rasa ingin tahu (curiosity). Murid juga belajar sesuatu yang bermakna karena berkorelasi dengan kehidupan nyata (meaningful learning).
Yang juga tidak boleh dilupakan, semua proses belajar mengajar harus dilakukan dengan menggembirakan (joyful learning). Menggembirakan dalam pembelajaran mendalam tidak boleh dipahami sekadar menghadirkan kelucuan di kelas atau luar kelas. Yang penting, dalam proses belajar mengajar guru memuliakan anak-anak sehingga merasa aman dan nyaman. Sekolah pun menjadi rumah kedua yang menyenangkan bagi anak-anak.
Dalam pembelajaran mendalam, guru harus menghargai minat dan bakat, keunikan, serta keberagaman setiap anak. Semua anak sejatinya memiliki talenta hebat sesuai potensi yang diberikan Tuhan. Karena itulah, tidak boleh ada guru yang menstigma anak dengan panggilan: anak bodoh, anak nakal, atau sebutan negatif lainnya. Stigma negatif tersebut dalam tingkat tertentu pasti akan memengaruhi rasa percaya diri anak.
Pembelajaran mendalam juga menekankan pentingnya kolaborasi, pemanfaatan teknologi, dan media digital. Dengan semua perangkat ini diharapkan anak-anak akan berkembang menjadi individu yang berpikiran kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif.
GURU SEBAGAI UJUNG TOMBAK
Untuk mengimplementasikan prinsip less but more dalam pembelajaran mendalam, kata kuncinya ialah guru. Karena itulah, semua ikhtiar untuk meningkatan pemahaman filosofis, kompetensi, dan keterampilan guru dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam menjadi sebuah keniscayaan.
Berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru penting dilakukan secara berkelanjutan. Hal itu karena guru merupakan ujung tombak implementasi apa pun kebijakan pemerintah yang membidangi pendidikan. Bahkan dikatakan guru adalah jantung pembelajaran sekaligus kunci mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua.
Dalam buku klasik karya EV Pullias dan James D Young berjudul A Teacher is Many Things (1968) ditegaskan bahwa guru adalah segalanya. Menurut Pullias dan D Young, guru bukan hanya pendidik yang bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan. Guru juga agen perubahan, inspirator, dan penentu kesuksesan hidup murid pada masa mendatang.
Jangan lupa, setiap guru juga dituntut menjadi model keteladanan bagi murid. Bahkan guru dikatakan sebagai agen peradaban. Semua fungsi tersebut harus diperankan sebaik mungkin oleh guru. Setiap guru juga penting menyadari bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
Seorang pendidik penting berkeyakinan bahwa menjadi guru merupakan tugas mulia yang bernilai ibadah. Dalam menunaikan tugas, guru penting untuk tidak sekadar berorientasi pada gaji (ujrah), tapi juga harus disertai keyakinan memperoleh pahala (ajrun). Dengan begitu, nilai-nilai pengabdian akan melekat pada setiap guru.
Mengingat begitu pentingnya posisi guru, maka pemerintah menempatkan berbagai program peningkatan mutu dan kesejahteraan guru sebagai prioritas. Semua elemen bangsa pun berkeyakinan bahwa dengan guru hebat, Indonesia kuat.





































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)












