Presiden Prabowo Perkenalkan Istilah Jas Hijau di Muktamar ke-35 NU

3 weeks ago 13
Presiden Prabowo Perkenalkan Istilah Jas Hijau di Muktamar ke-35 NU Presiden Prabowo Subianto.(Antara)

PRESIDEN Prabowo Subianto mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk senantiasa mengenang dan menghargai kontribusi besar para ulama dalam sejarah perjuangan bangsa. Pesan ini disampaikan Presiden melalui pengenalan istilah baru, yakni “Jas Hijau”, saat memberikan pidato dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).

Istilah tersebut merupakan analogi dari jargon terkenal "Jas Merah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang dipopulerkan oleh Presiden pertama RI, Soekarno. Prabowo menekankan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran spiritual dan fisik kaum sarungan.

"Karena itu saya ingin, kalau tidak salah Bung Karno ya mengatakan jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan jas hijau. Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama," ujar Kepala Negara di hadapan para peserta muktamar.

Dalam pidatonya, Prabowo menggarisbawahi bahwa meskipun Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta, ujian sesungguhnya untuk mempertahankan kedaulatan bangsa terjadi di Surabaya pada akhir tahun 1945. Ia menyebut peran kiai dan pesantren menjadi tulang punggung dalam pertempuran heroik tersebut.

"Kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya Oktober, November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar," terangnya.

Penghormatan untuk Kiai Kampung

Presiden juga memberikan apresiasi khusus kepada para "kiai kampung" yang bekerja dalam senyap di berbagai pelosok daerah. Menurutnya, para ulama ini memiliki andil besar dalam menjaga stabilitas sosial dan moral bangsa tanpa mengharapkan imbalan dari negara.

Pesan Presiden Prabowo:
"Terima kasih kepada semua ulama, yang terkenal maupun kiai-kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi, tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita, menjaga kerukunan umat, menjaga kedamaian di desa, dan mendoakan bangsa tanpa meminta apa pun kepada negara."

Nasionalisme dalam Lagu Syubbanul Wathon

Sebagai bukti kuatnya nasionalisme di kalangan ulama, Prabowo menyoroti lagu Syubbanul Wathon karya KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia mengingatkan bahwa lagu tersebut diciptakan belasan tahun sebelum proklamasi, di saat bentuk negara Indonesia sendiri belum terwujud secara formal.

Prabowo sempat melantunkan bagian awal lagu tersebut untuk menunjukkan kekagumannya terhadap visi para pendiri NU. Ia menegaskan bahwa cita-cita besar NU adalah membawa Indonesia menjadi bangsa yang bangkit, terhormat, dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Menutup pidatonya, Presiden menekankan bahwa kehormatan sebuah bangsa hanya bisa dicapai melalui keadilan dan kemakmuran. Ia meyakini bahwa kesejahteraan rakyat tidak akan pernah terwujud secara berkelanjutan tanpa adanya penegakan keadilan yang kokoh di tanah air. (Mir/I-1)

Poin Utama Pidato Konteks/Makna
Istilah "Jas Hijau" Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama.
Pertempuran Surabaya Titik uji kemerdekaan dengan peran besar pesantren.
Syubbanul Wathon Bukti nasionalisme ulama sebelum kemerdekaan RI.
Visi Bangsa Keadilan sebagai syarat mutlak kemakmuran.
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |