Presiden Prabowo Subianto.(Dok. YouTube Sekretariat Presiden)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai aset strategis bangsa. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat membuka Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).
Dalam pidatonya, Prabowo mengakui bahwa dukungan dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut memiliki peran krusial dalam perjalanannya sebagai mandataris rakyat. Ia menekankan pentingnya pemberdayaan organisasi keagamaan dan pesantren untuk kemajuan Indonesia.
"Tanpa dukungan NU dan Muhammadiyah tidak mungkin saya jadi mandataris rakyat. Saya berpikir terus bagaimana saya membesarkan, memperkuat, memberdayakan Nahdlatul Ulama, pesantren-pesantrennya, dan juga Muhammadiyah," ujar Prabowo.
Menurut Presiden, NU memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga stabilitas nasional, terutama saat menghadapi berbagai krisis. Ia menilai kehadiran NU sangat menentukan arah perdamaian dan masa depan bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah (umaro) dengan ulama. Kedekatan ini dianggap sebagai kunci utama jika Indonesia ingin bangkit dan menjaga keamanan nasional secara berkelanjutan.
Dalam momen tersebut, Prabowo juga mengungkapkan keinginannya untuk secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar NU. Ia secara terbuka menagih kartu tanda anggota (KTA) NU kepada Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
"Gus Yahya, aku dari dulu minta kartu NU. Jadi masuk utang sama saya, ya. Kalau bisa sebelum penutupan muktamar lah. Kalau ada kartu anggota, aku datang lagi tanggal 31," tuturnya berseloroh.
Prabowo menutup sambutannya dengan menegaskan kembali bahwa penguatan NU dan Muhammadiyah akan menjadi prioritas perhatian selama masa kepemimpinannya guna memastikan stabilitas dan kemajuan bangsa tetap terjaga. (Z-10)


















































