Pertama di Indonesia, Sekolah Memiliki Waste Education Center

3 weeks ago 27
Pertama di Indonesia, Sekolah Memiliki Waste Education Center Yayasan Pribadi Kamila berinovasi mengembangkan program Waste Education Center (WEC) di TK, SD, SMP dan SMA..(MI/BENNY BASTIANDY)

YAYASAN Pribadi Kamila merupakan penyelenggara pendidikan TKIT Annisa, SD Islam Cendekia, SMP Islam Cendekia, dan SMA PU Al-Bayan Cendekia di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sekolah ini mengembangkan program Waste Education Center (WEC). Program yang sudah berjalan hampir dua tahun tersebut disebut-sebut sebagai yang pertama dilakukan di lingkungan sekolah di Indonesia.

WEC merupakan pusat kegiatan edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan mendorong tindakan nyata untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Ada empat pilar kegiatannya yakni mengurangi volume sampah, mengelola sampah, memanfaatkan hasil pengelolaan sampah, dan dakwah lingkungan.

Empat pilar tersebut direalisasikan melalui pembelajaran terjadwal, penyuluhan terpola, pelatihan, dan kampanye lingkungan.

Kepala Waste Education Center, Deni Rohimat, mengatakan pembentukan WEC Sekolah Islam Cendikia didasari pertimbangan terjadinya krisis lingkungan yang diakibatkan sampah. Setidaknya ada dua tantangan pokok menghadapi kondisi itu, yakni pemulihan lingkungan dan pembentukan generasi masa depan yang bisa lebih peduli terhadap lingkungan.

"Kami memandang perlu hadir menjadi bagian dari solusi dengan membentuk Waste Education Center Sekolah Islam Cendekia yang sudah eksis sejak 5 Juni 2024," kata Deni, Sabtu (29/8).

Dia menuturkan, tujuan dibentuknya WEC Sekolah Islam Cendikia di antaranya meminimalkan kontribusi pembuangan sampah di lingkungan Kabupaten Cianjur. Sekaligus juga menyiapkan generasi yang peduli lingkungan sejak dini.

Membangun kesadaran dan kepedulian lingkungan memang tidak mudah. Diperlukan peran semua pihak, sehingga pihak yayasan melibatkan seluruh karyawan dan anak didik dari semua jenjang agar tujuan dari program itu bisa terwujud.

Informasi ini juga diperkuat oleh penyataan Direktur Operasional di Yayasan tersebut, Rita Yulianti.

"Kami melibatkan semua civitas lembaga dan integrasi kurikulum pada jenjang TK, SD, SMP, dan SMA," tegasnya.

Rita memandang, lembaga pendidikan memiliki peran strategis pada persoalan sampah. Sebab, hal itu berkaitan dengan perilaku lalai aktivitas manusia.

Berdasarkan data yang terhimpun dari berbagai sumber, di Indonesia hingga Juli 2024 tercatat 36,7% sampah belum terkelola dengan baik. Kondisi itu berkaitan dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengelola sampah.

Di Jawa Barat, produksi sampah masih tinggi yang mencapai 13,41 ribu ton per hari. Pun di Kabupaten Cianjur, masih ditemukan warga yang membuang sampah ke sungai sehingga pemerintah daerah setempat menerapkan sanksi sosial.

Penanganan krisis sampah adalah tanggung jawab bersama, tanpa terkecuali. Termasuk di dalamnya lembaga pendidikan sebagai entitas yang juga berkontribusi dalam produksi sampah secara signifikan.

Di tingkat TK-SMA misalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, Indonesia memiliki 303.445 lembaga pendidikan. Belum lagi sekolah berasrama dan pesantren yang tentunya memiliki tingkat produksi sampah lebih tinggi.

Terdapat 42.369 pondok pesantren dengan 6.274.307 santri di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.005 pondok pesantren dengan jumlah sebanyak 646.143 santri berada di Jawa Barat.

Jika setiap orang yang tinggal di pesantren memproduksi sampah 0,68 kg per hari dengan komposisi 60% organik dan 40% anorganik, maka dari kalangan santri saja, di Jawa Barat, bisa memicu timbulan sekitar 439,37 ton sampah per hari dengan komposisi sampah organik 263,62 ton dan sampah anorganik 175,75 ton.

"Pendidikan lingkungan di kami memang menjadi bagian dari kurikulum khas dalam bentuk komitmen mutu lembaga. Kami berani dengan hal itu, karena isu lingkungan adalah tantangan serius kita bersama," kata Direktur Pendidikan Yayasan Pribadi Kamila Cianjur, Dr. Dindin Alawi, S.Si., M.Pd.

"Kami sadar bahwa pendidikan lingkungan itu sangat penting serta perlu diterapkan sejak dini, komprehensif, dan berkelanjutan," timpal Ketua Yayasan Pribadi Kamila Cianjur Drs H Lucky Hermawan.


PESAN AGAMA


"Perintah Islam untuk menjaga lingkungan dari kerusakan itu jelas. Itu sebabnya Yayasan selalu memiliki perhatian atas hal itu," kata Pengawas Yayasan, KH Ghazali Rahman, S.Pd.I.

"Al Quran dan Sains tidak bisa dipisahkan. Keduanya sangat harmonis, termasuk pesan-pesannya dalam menjaga kelestarian lingkungan," terang Pembina Yayasan Ir. Runjai Wangsa Laksana, M.Pd.


IMPLEMENTASI


Implementasi program kerja WEC dilakukan secara bervariasi sesuai dengan keunikan setiap jenjang sekolah. Di unit TK, implementasi program WEC dilakukan melalui edukasi membuang sampah pada tempatnya sesuai kategori, bernyanyi dan bertepuk sampah yang kami kembangkan sendiri, serta menyiram tanaman.

"Semua itu dilakukan secara berulang dan melibatkan semua warga sekolah dalam rangka pembiasaan yang bermakna dan berkelanjutan," kata Kepala TKIT Annisa Lia Khumairoh Z., S.Pd.

Di unit SD, implementasi dilakukan melalui kegiatan sosialisasi setiap jam istirahat dan setelah salat duha.

"Termasuk penayangan video terkait pengelolaan sampah serta aktivitas menyiram tanaman," kata Kepala SD Islam Cendekia, Ryzki Armansyah, S.Pd.

Di unit SMP, implementasi program WEC dilakukan melalui giat Pot Unggulan Sayur Andalan Karya Anak Cendekia (Pusaka) setiap pekan selama 3 bulan. Kemudian monitoring harian pengelolaan sampah sebagai bagian dari dampak yang direncanakan.

"Pusaka bukan sekadar komoditas tanaman, tapi entitas kreativitas warga sekolah dalam mengelola sampah secara ramah lingkungan dan berkelanjutan," sebut Kepala SMP Islam Cendekia, Nisrina Meta Gamanik, S.Pd.

Di unit SMA, semua warga sekolah dilibatkan. Implementasi dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan yang berkelanjutan, berbasis praktik nyata, refleksi, kolaborasi, serta terintegrasi dengan pembelajaran dan budaya sekolah.

Kegiatan rutin diwujudkan melalui Selasa Berseka dan Jumat Bersih dengan pembiasaan memilah sampah plastik, kertas, kaca, dan organik setiap hari di kelas. Sampah yang terkumpul ditimbang dan diolah lebih lanjut dua kali dalam sepekan, disertai kegiatan kerja bakti lingkungan yang melibatkan murid.

Sampah organik dimanfaatkan sebagai sumber belajar melalui kegiatan project learning (kolam lele, hidroponik, aquaponik, dab air lindi). Sampah anorganik dikelola melalui praktik pembuatan ecobrick, paving block, dan insulator dengan menjungjung tinggi standar keamanan pada setiap prosesnya.

SMA memiliki kelompok Duta Lingkungan yang beranggotakan perwakilan murid setiap kelas yang dibimbing dua orang guru pembina dan kepala WEC. Perannya terkait lingkungan sangat signifikan.

Tidak terbatas pada pengelolaan sampah, Duta Lingkungan juga memiliki progam Botanika, mengenalkan nama dan fakta menarik setiap tanaman kepada semua warga sekolah dalam rangka menumbuhkan kepedulian dan membiasakan hidup harmonis dengan lingkungan.

"Saya melihat sampah bukan sebagai masalah, tapi sumber inovasi bagi warga sekolah," kata Kepala SMA PU Al Bayan Cendekia, Ruddy Herdriawan, ST., MM.


DAMPAK PROGRAM WEC


Implementasi bertahap program kerja Waste Education Center berdampak positif bagi lingkungan dan warga sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pribadi Kamila Cianjur. Terutama volume sampah yang menurun.

Hampir 100% sampah organik bisa didaur ulang dan dimanfaatkan di lingkungan sekolah. Sebagian besar sampah plastik bisa dikelola dan buangan sampah ke luar lingkungan menurun drastis.

Selain itu, kepedulian warga sekolah terkait lingkungan pun cenderung meningkat. Mulai terbentuk tren low-waste life style, keterampilan murid dalam mengelola sampah meningkat, dan menstimulasi ketertarikan pihak eskternal untuk melakukan gerakan peduli lingkungan.

Tren penurunan produksi sampah berbanding lurus dengan edukasi sampah (waste education) melalui kampanye lingkungan.

"Menekan produksi sampah tidak mudah. Semua warga perlu selalu diingatkan. Bahkan orang-orang dewasa, dalam hal sampah mereka sama seperti anak kecil, perlu selalu diingatkan," tegas Manajer General Affair, Asyraf, SH.

Selain membawa dampak positif, gerakan peduli lingkungan melalui Waste Education Center juga mendapat kesan positif dari para murid dan komite sekolah sebagai perwakilan orangtua.

"Seru, karena aku jadi tahu harus buang sampah ke mana. Aku paling suka menyiram tanaman pakai semprotan karena biar tanamannya jadi segar, gak layu," kata siswa Kelas B1, Mahesa Fransisca.

Hasby, siswa kelas 5B SD Islam Cendekia mengaku senang bisa belajar di WEC. Banyak ilmu yang bisa didapatkan. Salah satunya membuat pot bunga dari botol bekas.

"Senang banget ikut kegiatan-kegiatan Waste Education Center. Saya bisa belajar langsung cara mengelola sampah dan menjaga lingkungan. Ternyata menjaga alam itu seru dan banyak hal yang bisa dipelajari," tambah siswa lain, Irdina Putri Afiqah, siswa kelas 8D SMP Islam Cendekia.

Sementara itu, Daffa, siswa kelas XI-1, mengaku senang dan bangga dapat terlibat langsung pada program Waste Education Center SMA PU Al Bayan Cendekia. Terlebih ia dipercaya menjadi bagian dari Duta Lingkungan.

Baginya, program WEC lebih dari sekadar belajar menjaga kebersihan lingkungan. Dia mendapatkan pengalaman baru memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah sehingga bernilai guna.

"Saya dan teman-teman menjadi lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menjadi Duta Lingkungan juga membuat kami merasa memiliki peran untuk mengajak teman-teman membangun kebiasaan yang lebih baik dalam mengelola sampah. Kami bangga karena ikut berkontribusi menciptakan lingkungan sekolah dan pesantren yang lebih bersih, asri, nyaman, serta menjadi bagian dari perubahan menuju budaya Zero Waste," tegasnya.

Para orangtua siswa juga mengapresiasi dan mendukung penuh pelaksanaan program Waste Education Center yang terjadwal pada kegiatan belajar murid. Bahkan terintegrasi pada kurikulum yang dikembangkan yayasan.

"Saya melihat para murid sangat antusias mengikuti proses pemilahan sampah, daur ulang sederhana, hingga pembiasaan membuang sampah pada tempatnya yang dikemas secara menarik oleh para guru," kata Ketua Komite TKIT Annisa, Intan Herawati, S.Keb,. Bdn.

Kegiatan tersebut tidak hanya membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama.

"Kami sepakat bahwa pendidikan lingkungan merupakan bagian penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan peduli terhadap kelestarian bumi," terangnya.

Sementara itu, Ketua Komite SD Islam Cendekia, Wini Noviany melihat  melihat adanya perubahan prilaku anak terhadap sampah, mulai belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta lebih peduli terhadap kesadaran menjaga lingkungan.

"Alhamdulillah anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti program Waste Education Center.  Kegiatan-kegiatannya sangat positif dalam membangun kepedulian lingkungan sejak dini dan  melatih kebiasaan baik pada murid," terang Ketua Komite SMP Islam Cendekia, Isma Masrofah.

"Inilah semangat yang kami lihat dan kami dorong di SMA PU Al Bayan Cendekia melalui Waste Education Center dan gerakan Zero Waste. Edukasi ini tidak hanya mengajarkan bagaimana mengelola sampah, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mengurangi sampah yang dihasilkan sejak dari sumbernya. Semoga langkah kecil yang dilakukan SMA PU Al Bayan Cendekia ini dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan. Dari sekolah kita bergerak, dari keluarga kita membiasakan, dan dari hari ini kita mulai. Zero Waste bukan sekadar cita-cita, tetapi tanggung jawab kita bersama," tutur Ketua Komite SMA PU Al Bayan Cendekia, Sulkifly Baro.

Dr. Dera Nugraha, seorang pegiat pendidikan yang juga turut berkontribusi dalam pembentukan Waste Education Center Sekolah Islam Cendekia memiliki optimisme atas program lingkungan ini.

Menurutnya, WEC memang belum mampu mengatasi waste crisis (krisis sampah) di Kabupaten Cianjur, apalagi di Jawa Barat. Namun dalam hal kontribusi memperbaiki lingkungan dan mempersiapkan generasi masa depan yang lebih peduli lingkungan; motivasinya, program kerjanya yang realistis, serta dampaknya yang nyata, dapat direplikasi di tempat-tempat lain sesuai dengan konteksnya.

"Terlebih bagi lembaga-lembaga pendidikan serupa di Indonesia, untuk pemulihan dan masa depan lingkungan yang lebih baik," kata Dera.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |