Perang AI Amerika dan Tiongkok Memanas, Siapa yang Akan Kuasai Dunia?

2 hours ago 1
Perang AI Amerika dan Tiongkok Memanas, Siapa yang Akan Kuasai Dunia? ilustrasi(Magnific)

PERSAINGAN antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki babak baru. JJika selama ini Washington dikenal sebagai pionir dalam menghadirkan model AI paling canggih secara teknis, perusahaan-perusahaan teknologi asal Beijing justru mengambil jalur sebaliknya: menciptakan AI yang cukup mumpuni, tetapi jauh lebih murah, efisien, dan mudah diadopsi oleh pasar global.

Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Dalam setahun terakhir, model AI asal Tiongkok semakin banyak digunakan oleh perusahaan, pemerintah, hingga pelaku usaha di berbagai negara, mulai dari Asia Tenggara hingga kawasan Teluk.

Laporan The Washington Post menyebut bahwa persaingan AI saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi terbaik, tetapi juga siapa yang mampu menghadirkan teknologi yang benar-benar digunakan masyarakat.

Cherie Shi, Global Business Manager MiniMax, mengatakan bahwa ukuran keberhasilan AI kini bukan lagi sekadar mampu mencetak pencapaian teknis tertinggi.

"Batas terdepan AI bukan lagi soal mencapai tolok ukur teknis, melainkan tentang berapa banyak orang di dunia nyata yang benar-benar menggunakan model kami setiap hari," ujarnya dikutip dari The Washington Post.

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan strategi perusahaan AI di Tiongkok. Fokus mereka kini bergeser dari mengejar gelar sebagai AI paling canggih menjadi AI yang paling banyak dipakai.

Bersaing Lewat Harga dan Efisiensi

Meski perusahaan AI Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic masih dianggap memimpin dari sisi kemampuan teknologi, sejumlah analis menilai keunggulan tersebut belum tentu bertahan lama.

Dalam laporan yang diterbitkan JPMorganChase Center for Geopolitics pada Mei lalu disebutkan bahwa kemampuan model-model AI terdepan diperkirakan akan semakin mendekati setara, yang akan menjadi pembeda justru kualitas implementasi, integrasi dengan kebutuhan industri, serta kemampuan menarik pengguna.

Lembaga itu bahkan menilai laboratorium AI di Tiongkok sedang mengembangkan model yang dirancang untuk "memenangkan persaingan adopsi."

Di sisi lain, biaya penggunaan AI kini menjadi perhatian banyak perusahaan. Setelah sebelumnya berlomba mengintegrasikan AI ke dalam operasional bisnis, kini mereka menghadapi lonjakan biaya penggunaan token atau satuan konsumsi data AI.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan AI asal Tiongkok yang menawarkan biaya penggunaan lebih murah sekaligus model yang lebih hemat sumber daya komputasi.

Seorang tenaga penjualan dari salah satu perusahaan AI besar di Tiongkok yang identitasnya dirahasiakan mengatakan banyak perusahaan sebenarnya tidak membutuhkan kemampuan AI terbaik di dunia.

"Banyak perusahaan hanya membutuhkan sebagian kecil dari kemampuan yang ditawarkan Anthropic maupun OpenAI. Jika kami bisa memberikan 80 persen manfaat dengan biaya jauh lebih rendah, itu sudah cukup. Kami akan merebut pangsa pasar itu," ujarnya dikutip dari laman yang sama.

Gunja Gargeshwari, Chief Revenue Officer Bright Data, juga melihat tren serupa.

"Tidak bisa dimungkiri, efisiensi biaya dan penggunaan token mereka benar-benar luar biasa."

Menurutnya, semakin banyak klien Bright Data mulai bereksperimen menggunakan model AI buatan Tiongkok.

Ekspansi Ai Tiongkok Semakin Luas

Keberhasilan perusahaan AI Tiongkok tidak hanya terlihat dari sisi teknologi, tetapi juga ekspansi bisnis.

Singapura, misalnya, memilih model AI Qwen milik Alibaba untuk mendukung sebuah inisiatif AI nasional. Di Malaysia, perusahaan teknologi asal Tiongkok terlibat dalam pembangunan proyek kota pintar senilai 20 miliar dolar AS. Sementara Arab Saudi menggandeng ByteDance dan Huawei untuk menerapkan AI pada infrastruktur perkotaan.

Salah satu perusahaan yang paling agresif melakukan ekspansi adalah Zhipu AI atau Z.ai.

Direktur Produk Z.ai, Li Zixuan, mengibaratkan persaingan AI antara Amerika dan Tiongkok seperti perbandingan mobil mewah.

Analogi tersebut menunjukkan bahwa AI Amerika memang masih unggul dari sisi kualitas. Namun AI Tiongkok dinilai sudah sangat kompetitif, lebih terjangkau, dan memiliki peluang lebih besar untuk digunakan secara luas.

Meski masuk daftar pembatasan perdagangan Amerika Serikat karena dugaan keterkaitan dengan militer Tiongkok, Zhipu tetap memperluas bisnis internasionalnya. Perusahaan itu telah membuka kantor di Singapura dan Dubai serta mulai memperoleh berbagai kontrak pemerintah di Asia.

OpenAI bahkan sempat menyoroti ekspansi agresif Zhipu. Dalam unggahan blog tahun lalu, OpenAI menulis bahwa perusahaan tersebut berusaha:

"Menanamkan sistem dan standar AI Tiongkok di berbagai negara berkembang sebelum pesaing dari Amerika Serikat maupun Eropa dapat melakukannya," tulis pernyataan dari OpenAI.

Produk andalan Zhipu, yakni GLM, kini diklaim telah memiliki lebih dari 4 juta pengguna di 218 negara.

Selain harga murah, banyak model AI Tiongkok tersedia secara open source. Artinya, perusahaan maupun pemerintah dapat mengunduh model tersebut dan menjalankannya di pusat data sendiri tanpa bergantung pada layanan cloud.

Menurut Cherie Shi, pendekatan tersebut menarik bagi banyak pemerintah yang ingin memastikan seluruh data tetap berada di bawah kendali mereka sendiri.

Model seperti ini juga diminati perusahaan yang mengelola data sensitif, seperti sektor perbankan dan kesehatan.

Aleksander Mordvinov, pendiri perusahaan rintisan teknologi finansial di Thailand, mengaku membangun seluruh sistem AI perusahaannya menggunakan Qwen.

"Semua perusahaan yang menggunakan layanan cloud suatu saat bisa mengalami kebocoran data. Saya tidak bisa mengambil risiko itu," ujarnya.

Karena itu, ia memilih menggunakan AI yang dapat dijalankan secara lokal.

Amerika Dinilai Mulai Kehilangan Momentum

Martijn Rasser, Wakil Presiden Special Competitive Studies Project (SCSP), mengatakan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat juga mulai memengaruhi kepercayaan pengguna.

"Banyak pengguna merasa khawatir karena akses terhadap produk AI Amerika tidak selalu dapat diandalkan. Itu jelas bukan nilai tambah," ujarnya.

Komentar tersebut muncul setelah pemerintahan Presiden Donald Trump membatasi akses warga negara asing terhadap model AI tercanggih milik Anthropic.

Kebijakan itu bahkan sempat mendongkrak harga saham sejumlah perusahaan AI Tiongkok, termasuk Zhipu.

Dalam forum teknologi di Paris, Chairman Alibaba Joseph Tsai mengajak negara-negara Eropa agar tidak bergantung hanya pada satu penyedia AI.

"Masalahnya sekarang, semua telur Anda berada dalam satu keranjang. Mengapa tidak memilih keranjang kedua agar risikonya lebih tersebar?"

Menurut Tsai, memiliki alternatif AI dari Tiongkok akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi negara-negara maupun perusahaan.

(The Washington Post/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |