Peningkatan Kompetensi Fisioterapis Indonesia Penting untuk Investasi Jangka Panjang Medis

1 week ago 10
Peningkatan Kompetensi Fisioterapis Indonesia Penting untuk Investasi Jangka Panjang Medis Workshop bersama pakar Korea Selatan dr. Hong Jung Gi guna meningkatkan kompetensi fisioterapis Indonesia.(Istimewa)

PERKEMBANGAN industri olahraga nasional yang kian kompetitif menuntut kesiapan lini pendukung, terutama pada sektor sport sains dan pemulihan performa. Menjawab tantangan tersebut, Postural Science Academy (PSA) berkolaborasi dengan jaringan klinik fisioterapi olahraga Bebas Cedera menggelar lokakarya (workshop) klinis bertajuk Pain & Exercise di Fitswell Wellness, Surabaya.

Workshop ini membedah metode evidence-based practice yang memadukan teori ilmiah terkini dengan simulasi penanganan nyeri dan exercise therapy yang dapat diaplikasikan dalam praktik sehari-hari. Agenda ini menghadirkan langsung pakar rehabilitasi dan exercise medicine terkemuka asal Korea Selatan, dr. Hong Jung Gi.

Artis sekaligus founder Postural Science Academy, Natasha Wilona mengatakan kolaborasi perdana antara PSA dan Bebas Cedera menjadi langkah awal untuk membangun budaya belajar berkelanjutan bagi fisioterapis Indonesia.

“Ini adalah kolaborasi pertama PSA dan Bebas Cedera. Saya senang sekali karena para fisioterapis di sini benar-benar haus akan ilmu dan ingin terus meningkatkan kualitas dirinya. Itu yang paling membuat saya terkesan,” ujar Natasha.

Menurut Natasha, keterlibatannya di dunia kesehatan berangkat dari keyakinan bahwa kualitas pelayanan harus dimulai dari kualitas sumber daya manusianya. Melalui Postural Science Academy, ia ingin menghadirkan lebih banyak program edukasi internasional agar fisioterapis dan tenaga kesehatan Indonesia memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan terbaru.

Ia menilai peningkatan kompetensi menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi fisioterapis.

“Terkadang kepercayaan masyarakat terhadap klinik atau tempat fisioterapi belum sepenuhnya terbentuk karena mereka ingin memastikan fisioterapisnya benar-benar terus belajar. Di Bebas Cedera, saya melihat semua fisioterapis memiliki kemauan untuk berkembang dan itu menjadi nilai yang sangat baik,” katanya.

Natasha juga menceritakan proses hingga akhirnya PSA berhasil menghadirkan dr. Hong Jung Gi ke Indonesia. Ia mengaku sempat merasa tidak percaya diri ketika pertama kali menghubungi dokter yang memiliki reputasi internasional tersebut.

“Awalnya kami sempat minder karena beliau merupakan salah satu doktor dengan nama besar di Korea Selatan. Saat pertama kali mengirim pesan, kami bahkan tidak yakin akan mendapat balasan. Namun ternyata beliau memberikan respons yang sangat positif dan bersedia datang ke Indonesia tahun lalu,” ungkapnya.

Workshop di Surabaya menjadi rangkaian pertama dari program edukasi Postural Science Academy bersama dr. Hong Jung Gi di Indonesia. Setelah Surabaya, kegiatan akan berlanjut di Medan dengan pembahasan mengenai rehabilitasi dan kebugaran pada lansia, kemudian ditutup di Jakarta dengan tema Women’s Health, yang membahas kesehatan wanita melalui pendekatan rehabilitasi dan exercise berbasis bukti.

Sementara itu, Founder Bebas Cedera sekaligus Sport Physiotherapist Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sejak 2014, Asep Azis, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi fisioterapis merupakan investasi jangka panjang yang akan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Terima kasih kepada PSA yang sudah bekerja sama dengan Bebas Cedera. Harapannya ini bukan yang terakhir, tetapi menjadi awal untuk terus belajar bersama. Saya yakin melalui kegiatan seperti ini kualitas fisioterapis Indonesia akan terus meningkat sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa hidup bebas dari cedera,” ujar Asep.

Sebagai praktisi yang telah mengawal kebugaran penggawa Timnas Indonesia di berbagai ajang internasional, Asep menambahkan bahwa Bebas Cedera menaruh perhatian besar pada program continuous professional development.

Tujuannya adalah memastikan setiap fisioterapis olahraga mampu menguasai teknologi rehabilitasi terbaru serta menerapkan standar intervensi berbasis data sains.

Melalui kolaborasi ini, PSA dan Bebas Cedera berharap semakin banyak fisioterapis Indonesia memperoleh kesempatan belajar langsung dari para pakar internasional. Dengan peningkatan kompetensi yang berkelanjutan, kualitas pelayanan fisioterapi di Indonesia diharapkan terus berkembang sehingga masyarakat memperoleh layanan rehabilitasi yang semakin aman, efektif, dan berbasis sains.

(P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |