Warga Iran di Lapangan Enghelab di Teheran, Senin (9/3/2026).(Xinhua/Shadati)
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan kepada para pemimpin negara-negara Islam untuk memperkuat persatuan guna menghadapi pihak yang disebutnya sebagai "musuh sejati" bersama. Dalam pesan yang disampaikan pada Minggu (30/8), Khamenei secara eksplisit menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai ancaman utama terhadap persatuan umat Islam.
Seruan tersebut disampaikan dalam rangka memperingati "Pekan Persatuan Islam". Melalui siaran televisi nasional IRIB, Khamenei menekankan pentingnya empati dan kerja sama di antara negara-negara Muslim, khususnya di kawasan Asia Barat dan Teluk.
"Rekomendasi berulang dan empati saya kepada para pemimpin negara Islam adalah supaya mereka dapat melihat musuh sejati, memahami rencana musuh itu, dan melawannya," ujar Khamenei dalam pesan tersebut.
Persatuan Demi Peradaban Islam
Khamenei menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan prasyarat mutlak untuk membangun peradaban Islam yang kuat dan berpengaruh secara global. Ia memperingatkan bahwa AS dan Israel bukan hanya menjadi lawan bagi Iran, melainkan musuh bagi seluruh dunia Islam.
"AS dan Israel adalah musuh sejati dari persatuan dan persahabatan ini," tegasnya. Ia menambahkan bahwa strategi kedua negara tersebut dirancang untuk memecah belah persahabatan antarnegara Muslim.
Kronologi Eskalasi Konflik
Pernyataan keras ini muncul di tengah situasi keamanan Timur Tengah yang fluktuatif. Berikut adalah ringkasan eskalasi konflik antara Iran, AS, dan Israel dalam beberapa bulan terakhir:
| Akhir Februari | Serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran, memicu balasan Iran terhadap aset militer AS di negara tetangga. |
| April | Kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. |
| Juni | Penandatanganan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik militer demi perdamaian langgeng. |
| Juli - Agustus | Kesepakatan pupus; terjadi aksi saling serang selama dua pekan terakhir. |
| Terbaru (Agustus) | Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian serangan untuk mengusahakan kembali dialog. |
Meskipun sempat ada upaya perdamaian melalui nota kesepahaman pada Juni lalu, stabilitas di kawasan kembali terganggu sejak bulan lalu. Ketegangan terbaru ini sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump secara mendadak memerintahkan penghentian serangan guna membuka ruang dialog diplomatik untuk menghentikan perang yang berkepanjangan. (Ant/I-1)


















































