Paparan Asap Berulang Tingkatkan Risiko Gangguan Paru hingga Kanker

3 weeks ago 24
Paparan Asap Berulang Tingkatkan Risiko Gangguan Paru hingga Kanker Ilustrasi(Antara)

PAPARAN asap dalam konsentrasi tinggi dan terjadi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan paru, termasuk kanker paru. Paparan tersebut dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, pembakaran sampah, asap rokok, hingga emisi kendaraan bermotor.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr. Linda Masniari, SpP(K), mengatakan paparan asap berkepanjangan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker paru.

“Kalau misalnya dia terpapar lama, bisa menyebabkan salah satunya kanker paru. Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan atau lahan,” kata Linda ketika ditemui usai acara MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9).

Menurut Linda, paparan asap dalam kadar tinggi tidak hanya berdampak dalam jangka panjang, tetapi juga dapat memicu gangguan paru akut. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang menghirup asap dengan konsentrasi sangat tinggi.

“Kalau misalnya kebakaran asap itu bisa menyebabkan bronkitis, kemudian misalnya bisa menyebabkan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), kemudian bisa terakhir ini apa namanya, akut cedera paru akibat dari asap kalau misalnya konsentrasinya tinggi sekali,” ujarnya.

Bakar Sampah Juga Berisiko

Linda mengingatkan masyarakat untuk menghindari kebiasaan membakar sampah, khususnya di kawasan permukiman. Asap dari aktivitas tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber paparan yang berisiko terhadap kesehatan paru.

“Orang-orang di kompleks atau di perumahan itu kan suka bakar-bakar sampah, itu juga salah satu pencetus bisa terjadi kanker paru,” katanya.

Ia menjelaskan risiko gangguan paru semakin perlu diperhatikan apabila paparan asap terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang.

Masker N95 Bantu Kurangi Paparan Asap

Untuk mengurangi paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Linda menyarankan masyarakat menggunakan masker, meskipun perlindungan yang diberikan tidak dapat mencapai 100%.

“Kalau untuk menangkal 100% tidak bisa ya, tapi paling tidak ada sedikit pengurangan. Kalau misalnya mau, itu ya paling pakai yang waktu kita covid dulu, pakai yang masker N95,” ujar Linda.

Linda menjelaskan partikel asap berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan dan mencapai alveolus atau bagian paru tempat pertukaran gas berlangsung.

“Karena asap kan ukurannya di bawah 0,5 mikron ya, jadi dia bisa masuk ke paru dan bisa mengendap di alveol,” katanya.

Menurut dia, paparan asap yang berlangsung berulang atau dalam waktu panjang dapat berkontribusi terhadap berbagai gangguan paru, termasuk bronkitis, PPOK, hingga meningkatkan risiko kanker paru. (Ant/-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |