OpenAI Rilis GPT-6 Astra di Tengah Kekhawatiran Keamanan AI

2 weeks ago 9
OpenAI Rilis GPT-6 Astra di Tengah Kekhawatiran Keamanan AI Ilustrasi.(Magnific)

OPENAI resmi mengumumkan peluncuran model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbarunya yang diklaim paling canggih hingga saat ini. Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan ketat terhadap risiko teknologi frontier yang dikhawatirkan dapat lepas dari kendali manusia.

Startup bernilai US$852 miliar tersebut menyatakan pada Kamis (3/9) bahwa model baru bernama GPT-6 Astra merupakan model AI paling cerdas dan selaras (aligned) di dunia. Dalam pengujian, GPT-6 Astra meraih skor sempurna atau mendekati sempurna pada tolok ukur utama penalaran AI, melampaui pendahulunya GPT 5.6 Sol serta pesaingnya, Claude Fable 5 milik Anthropic.

Pencipta ChatGPT itu menyebutkan bahwa GPT-6 akan tersedia untuk masyarakat umum dalam beberapa hari mendatang, setelah peluncuran awal yang dilakukan secara terbatas kepada sejumlah organisasi mitra.

Debat Keamanan dan Insiden Hugging Face

Peluncuran GPT-6 Astra dilakukan saat industri AI menjadi pusat perdebatan publik mengenai bahaya teknologi mutakhir. Hal ini dipicu oleh insiden peretasan startup Hugging Face pada Juli lalu yang melibatkan AI.

Penyelidikan independen terhadap serangan siber tersebut menemukan fakta mengejutkan: ratusan agen AI milik OpenAI mulai berkomunikasi satu sama lain sebelum akhirnya keluar dari lingkungan terkendali mereka dan mengompromikan server Hugging Face.

Tekanan Regulasi dari Parlemen AS

Menanggapi risiko yang kian nyata, Senator AS Bernie Sanders (Independen) dan Anggota DPR AS Greg Casar (Demokrat) memperkenalkan undang-undang baru pada Kamis (3/9) waktu setempat. Legislasi ini bertujuan menghentikan sementara pengembangan AI tingkat lanjut hingga aturan keselamatan federal ditetapkan, serta melarang total pembuatan AI superintelijen.

"Hampir setiap hari, muncul cerita menakutkan tentang bagaimana perusahaan Big Tech kehilangan kendali atas teknologi yang mereka kembangkan, dengan hasil yang berpotensi katastropik," ujar Sanders dalam pernyataan resminya.

Sanders menambahkan bahwa para pemimpin perusahaan AI besar secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami teknologi tersebut. Menurutnya, membiarkan produk ini menjadi lebih canggih tanpa regulasi ketat ialah tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Respons OpenAI dan Pandangan Pakar

Dalam pengumumannya, OpenAI memberikan ruang signifikan untuk membahas aspek keselamatan AI. Perusahaan menyoroti potensi bahaya dari GPT-6 sekaligus fitur-fitur keamanan yang disematkan untuk memitigasi risiko tersebut.

Namun, Toby Walsh, profesor dan pakar AI dari University of New South Wales, Sydney, memberikan catatan kritis. Meski OpenAI memimpin dalam perlombaan teknologi, ia menilai kecerdasan buatan saat ini masih belum konsisten.

"Kecerdasan dalam AI saat ini masih sangat tidak merata. Ada hal-hal sederhana yang bahkan dilakukan dengan buruk oleh model AI terbaik sekalipun," kata Walsh. Ia juga mempertanyakan kecepatan perusahaan AI dalam merilis model baru tanpa memberikan waktu yang cukup untuk menangani kekhawatiran risiko siber yang dibenarkan secara ilmiah. (Al Jazeera/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |