Ilustrasi(Doc NOAA Fisheries)
NYANYIAN paus sirip (fin whale) kembali menarik perhatian ilmuwan setelah sinyal suaranya menunjukkan fenomena yang sekilas tampak mustahil yaitu puncak suara seolah bergerak lebih cepat daripada kecepatan suara di air.
Namun, paus sirip ternyata tidak sedang “menembus” batas fisika. Fenomena tersebut berkaitan dengan cara gelombang suara merambat dan berinteraksi di lingkungan laut.
Paus sirip dikenal menghasilkan suara berfrekuensi sangat rendah. Berdasarkan laporan yang dikutip dari NOAA, suara khasnya berada di sekitar 20 Hz dan rekamannya bahkan perlu diputar hingga lima kali lebih cepat agar dapat terdengar jelas oleh manusia.
Suara berfrekuensi rendah seperti ini juga mampu merambat dalam jarak sangat jauh di laut.
Sempat Terlihat Melaju 3.000 Meter per Detik
Fenomena tersebut menjadi menarik ketika ilmuwan menganalisis waktu kedatangan nyanyian paus di sejumlah alat perekam bawah laut.
Perhitungan tertentu dapat menghasilkan kecepatan tampak sekitar 3.000 meter per detik, sementara suara di air laut umumnya merambat sekitar 1.500 meter per detik.
Angka itu tentu memunculkan pertanyaan “bagaimana mungkin suara dapat bergerak dua kali lebih cepat dari gelombang suara normal?”
Jawabannya bukan karena suara paus benar-benar melaju secepat itu. Salah satu penjelasannya adalah interferensi temporal, ketika sinyal suara yang sama mencapai penerima melalui lebih dari satu jalur.
Gelombang yang datang langsung dapat bercampur dengan gelombang yang terlebih dahulu dipantulkan oleh permukaan laut.
Pertemuan kedua gelombang tersebut dapat membuat posisi puncak sinyal terlihat berpindah lebih cepat daripada kecepatan rambat gelombang sebenarnya.
Dengan kata lain, yang tampak bergerak cepat adalah pola atau puncak sinyal, bukan informasi yang dibawa gelombang suara.
Fenomena semacam ini tidak melanggar teori relativitas Einstein karena tidak ada informasi yang benar-benar dikirim melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan fisika.
Mengapa Nyanyian Paus Bisa Terdengar Jauh?
Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan karakter suara paus sirip. Sebagai paus balin, hewan ini menghasilkan suara rendah yang digunakan untuk komunikasi.
Dilansir dari NOAA, suara paus laut dapat membawa informasi dalam jarak jauh, sementara kondisi lingkungan seperti kedalaman, permukaan laut, dan kebisingan turut memengaruhi rekaman yang diterima hidrofon.
Karena itu, suara paus sirip bukan sekadar “nyanyian” yang menarik didengar. Sinyalnya menjadi alat penting bagi ilmuwan untuk melacak keberadaan, pergerakan, dan pola perilaku paus di lautan.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa lautan merupakan lingkungan akustik yang kompleks.
Pantulan, interferensi, serta jalur rambat yang berbeda dapat membuat sebuah sinyal terdengar atau terlihat seolah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum fisika, padahal yang terjadi adalah efek dari cara gelombang berinteraksi dengan lingkungannya.
Sumber: IFL Science, NIH, NOAA Fisheries


















































