Murid Berubah, Sekolah?

6 hours ago 2
Murid Berubah, Sekolah? (MI/Seno)

AWAL Juli selalu menandai dimulainya tahun ajaran baru. Namun, ada hal yang berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Murid yang memasuki sekolah hari ini bukan lagi generasi yang bergantung sepenuhnya pada buku pelajaran atau penjelasan guru. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus internet dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menyajikan informasi dalam hitungan detik.

Data APJII 2026 menunjukkan penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 80% penduduk. Angka tersebut menggambarkan sebagian besar murid yang memasuki sekolah hari ini telah terbiasa memperoleh informasi secara mandiri melalui ruang digital.

Dengan melihat perubahan tersebut, menyambut murid baru tidak hanya cukup dengan pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga perlu perubahan cara sekolah memandang murid. Menyambut murid baru di era AI berarti menyambut generasi dengan cara belajar, cara berpikir, dan kebutuhan yang berbeda.

KETIKA MURID BERUBAH, SEKOLAH HARUS BERUBAH

Selama puluhan tahun, sekolah berkembang sebagai tempat transfer pengetahuan. Guru menjadi sumber utama informasi, sementara murid datang untuk menerima dan mempelajari pengetahuan tersebut. Model itu sangat masuk akal pada zamannya, ketika akses informasi masih terbatas.

Kini pengetahuan melimpah, tetapi justru di situlah tantangan baru pendidikan: membantu murid memverifikasi dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Penelitian Stanford (2019) menemukan lebih dari 80% murid tak mampu menilai kredibilitas sumber digital, sementara paparan digital yang serbacepat menggerus kemampuan berpikir mendalam. Mereka terbiasa mendapat jawaban instan, tetapi tak terbiasa mempertanyakannya. Generasi sekarang memang memiliki akses lebih luas daripada generasi sebelumnya, tetapi akses itu tak otomatis melahirkan pemahaman lebih baik. Jika sekolah terus bertahan dengan pola hafalan, kesenjangan antara pendidikan dan kehidupan nyata akan semakin lebar.

Di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan saat ini. Selama bertahun-tahun sekolah berhasil menjawab persoalan keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Kini tantangannya berubah menjadi bagaimana membimbing murid agar tidak tenggelam dalam limpahan informasi. Jika sekolah gagal membaca perubahan itu, ruang kelas hanya akan menjadi tempat mengulang apa yang telah diketahui murid, bukan tempat memperluas cara mereka berpikir.

Perubahan itu bukan berarti sekolah kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, ketika informasi tersedia di mana-mana, sekolah semakin dibutuhkan sebagai ruang yang membantu murid belajar membedakan fakta dan opini, menghubungkan pengetahuan dan kehidupan, serta membangun cara berpikir kritis.

MENYAMBUT MURID DENGAN PENGALAMAN BELAJAR

Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana sekolah menjalankan peran itu? Jawabannya terletak pada satu kata: pengalaman. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan dunia kerja masa depan semakin membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, dan semangat belajar sepanjang hayat. Menariknya, seluruh keterampilan tersebut tidak tumbuh melalui hafalan, tetapi melalui pengalaman belajar yang mendorong rasa ingin tahu, refleksi, dan keberanian mencoba.

Karena itu, ruang kelas perlu berubah menjadi ruang eksplorasi. Sekolah harus menjadi ruang bagi murid untuk bertanya, berdiskusi, melakukan riset sederhana, bekerja sama, dan belajar menyelesaikan persoalan nyata. Ketika murid belajar tentang perubahan iklim, misalnya, mereka tidak cukup hanya memahami definisi pemanasan global atau menghafal faktor penyebabnya. Mereka perlu diajak mengamati perubahan lingkungan sekitarnya, menganalisis data curah hujan, berdiskusi dengan masyarakat, merancang solusi sederhana, hingga mengomunikasikan gagasan mereka.

Pengalaman seperti itulah yang akan diingat murid. Mereka mungkin lupa definisi yang dihafal, tetapi tidak melupakan pengalaman mencari solusi atau berdiskusi. Proses itulah yang mengubah pengetahuan menjadi pemahaman dan pembelajaran menjadi pengalaman hidup.

GURU SEBAGAI PENUNTUN PEMBELAJARAN

Perubahan cara belajar murid juga menuntut perubahan peran guru. Pada era AI, guru tidak lagi bersaing, tetapi melengkapi teknologi. Teknologi mungkin lebih cepat memberikan informasi, tetapi tidak mampu memahami karakter setiap murid, membangun hubungan emosional, menanamkan nilai, dan mendorong mereka terus belajar.

Ki Hadjar Dewantara menegaskan pendidikan ialah proses menuntun kodrat anak menuju keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Filosofi itu semakin relevan di tengah derasnya teknologi. Menuntun bukan memberikan jawaban, melainkan membantu murid menemukan arah, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya.

Pendekatan deep learningmindful, meaningful, joyful—menjadi salah satu jawabannya. Murid tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman, merefleksikan makna, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan. Guru bukan lagi sekadar penyampai pengetahuan, melainkan juga penuntun yang membantu murid bertumbuh menjadi manusia utuh.

Namun, perubahan itu tak akan terwujud jika guru terus dibebani budaya pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian materi dan angka asesmen. Guru memerlukan ruang untuk merancang pengalaman belajar yang kontekstual.

SEKOLAH YANG RELEVAN PADA ERA AI

Menyambut murid baru sesungguhnya juga membuka cara pandang baru terhadap pendidikan. Murid telah berubah sehingga sekolah pun harus berani berubah. Pada era AI, sekolah bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Akan tetapi, sekolah tetap menjadi tempat terbaik untuk menumbuhkan keterampilan masa depan. Sekolah perlu membangun budaya belajar yang memberikan ruang untuk eksplorasi, kolaborasi, refleksi, dan keberanian mencoba.

Hal yang paling penting ialah membuka cara pandang baru terhadap pendidikan. Sekolah tidak lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang bisa disampaikan, tetapi dari kemampuan mereka menumbuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, bekerja sama, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika teknologi terus berkembang, sekolah akan tetap relevan bukan karena mampu bersaing dengan AI, melainkan karena mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan mesin, yaitu menuntun manusia menjadi manusia seutuhnya—berpikir, berempati, dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Di situlah letak masa depan pendidikan: bukan menggantikan peran manusia, melainkan memanusiakan kembali manusia di tengah kecanggihan zaman.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |