Ilustrasi(magnifik)
MISTERI struktur raksasa yang membentang di wilayah pusat Galaksi Bima Sakti akhirnya mulai terpecahkan. Setelah lebih dari 40 tahun menjadi teka-teki di kalangan astronom, penelitian terbaru mengungkap bahwa struktur tersebut bukan berasal dari aktivitas lubang hitam supermasif di pusat galaksi, melainkan terbentuk akibat aktivitas bintang-bintang masif di sekitarnya.
Struktur yang dikenal sebagai Galactic Center Lobe (GCL) itu pertama kali ditemukan pada awal 1980-an melalui pengamatan gelombang radio. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menduga struktur tersebut merupakan sisa ledakan besar atau semburan energi dari pusat Bima Sakti.
Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics menunjukkan hasil berbeda. Tim astronom menemukan bahwa Galactic Center Lobe sebenarnya merupakan gelembung gas terionisasi yang terbentuk oleh radiasi ultraviolet dan angin kuat dari gugusan bintang bermassa besar.
Penelitian tersebut dilakukan menggunakan data dari MeerKAT, teleskop radio milik South African Radio Astronomy Observatory (SARAO).
Dengan resolusi pengamatan yang lebih tinggi, para peneliti mampu memetakan bentuk serta karakteristik struktur tersebut secara lebih rinci dibandingkan studi sebelumnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Galactic Center Lobe berada lebih dekat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hal itu membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa struktur tersebut bukan merupakan fenomena yang langsung berkaitan dengan inti Galaksi Bima Sakti.
Menurut tim peneliti, radiasi dan angin bintang yang terus-menerus menghantam gas antarbintang selama jutaan tahun mampu membentuk gelembung raksasa yang terlihat menjulang dari arah pusat galaksi. Temuan ini sekaligus mengoreksi dugaan lama yang menyebutkan bahwa struktur tersebut berasal dari aktivitas lubang hitam supermasif Sagittarius A*.
Penemuan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana interaksi antara bintang-bintang masif dan lingkungan antarbintang dapat menghasilkan struktur kosmik berskala sangat besar. Selain itu, hasil penelitian ini juga membantu ilmuwan menyusun model yang lebih akurat mengenai evolusi Galaksi Bima Sakti.
Para astronom berharap penelitian lanjutan dapat mengungkap apakah fenomena serupa juga terjadi di galaksi lain. Dengan semakin canggihnya teknologi teleskop radio, berbagai misteri yang selama ini menyelimuti alam semesta diperkirakan akan semakin banyak terjawab.
Temuan ini menjadi salah satu bukti bahwa perkembangan teknologi observasi mampu mengubah pemahaman ilmuwan terhadap objek-objek luar angkasa yang telah lama menjadi misteri.
Sumber: Astronomy & Astrophysics

















































