Misteri di Gugus Chandelier: Potret Terbaru Teleskop Hubble Ungkap Kejanggalan Bintang Kuno Bima Sakti

3 weeks ago 6
 Potret Terbaru Teleskop Hubble Ungkap Kejanggalan Bintang Kuno Bima Sakti NGC 6723 adalah gugus bola, penghuni kuno galaksi Bima Sakti.(ESA/Hubble & NASA, A. Sarajedini, G. Piotto)

TELESKOP Ruang Angkasa Hubble milik NASA/ESA kembali membagikan potret menakjubkan dari kedalaman jagat raya. Kali ini, sorotan tertuju pada Gugus Chandelier (NGC 6723), sebuah kumpulan puluhan ribu hingga jutaan bintang yang terikat erat oleh gravitasi dan berkilauan layaknya lampu kristal di luar angkasa.

Gugus bola yang berjarak sekitar 27.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi bintang Sagittarius ini merupakan salah satu dari sekitar 150 gugus bola yang mengorbit di lingkaran luar (halo) galaksi Bima Sakti. Struktur ini tergolong sebagai salah satu objek tertua di galaksi kita, dengan usia bintang di dalamnya diperkirakan melebihi 10 miliar tahun, bahkan ada yang mendekati usia alam semesta itu sendiri (13,8 miliar tahun).

Namun, gambar terbaru yang ditangkap Hubble menunjukkan ada hal yang tidak biasa dan membingungkan para astronom terkait sejarah pembentukannya.

Teori Lama yang Terpatahkan

Selama bertahun-tahun, teori astronomi konvensional menyebutkan seluruh bintang di dalam sebuah gugus bola lahir secara bersamaan. Bintang-bintang tersebut diperkirakan terbentuk dari material yang sama dalam satu ledakan pembentukan bintang tunggal, sehingga seharusnya memiliki usia dan komposisi kimia yang seragam.

Pandangan tersebut kini terpatahkan oleh data dan citra detail dari Hubble. Dalam potret terbaru NGC 6723, wilayah pusat gugus tampak sangat padat dan didominasi oleh bintang-bintang berandil warna biru terang. Sementara itu, bintang-bintang berwarna oranye lebih banyak tersebar di bagian pinggir outer cluster.

Dalam evolusi bintang, warna biru menandakan massa yang lebih besar dan karakteristik populasi yang berbeda dibanding bintang oranye. Temuan ini mengindikasikan bahwa gugus bola seperti NGC 6723 memiliki sejarah evolusi yang jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Dua Gelombang Kelahiran Bintang

Survei dan pengamatan lanjutan Hubble mengungkapkan bintang-bintang bermassa besar cenderung mengendap ke pusat gugus akibat dinamika gravitasi, sedangkan bintang bermassa lebih rendah terdorong ke arah luar.

Lebih mengejutkan lagi, analisis perbedaan kimiawi kecil antar-bintang mengonfirmasi adanya rentang usia yang berbeda di dalam Gugus Chandelier. Data mencatat adanya dua era pembentukan bintang terpisah, di mana gelombang kelahiran bintang kedua terjadi sekitar 634 juta tahun setelah gelombang pertama.

Temuan ini memicu pertanyaan besar bagi para ilmuwan, bagaimana gugus bintang kuno ini bisa melahirkan generasi bintang baru jauh setelah era pembentukan awalnya?

Saat ini, para astronom memiliki dua dugaan utama. Pertama, gugus bola terbentuk dari awan gas raksasa yang runtuh secara cepat dan bertahap di masa awal alam semesta. Kedua, berdasarkan simulasi terbaru, gugus bola seperti NGC 6723 kemungkinan merupakan sisa-sisa inti galaksi kerdil purba yang bintang luar-nya telah terkikis habis oleh gravitasi Bima Sakti.

Apapun asal-usul pastinya, potret megah dari Teleskop Hubble ini memberikan bukti fosil kosmik penting untuk memahami bagaimana Bima Sakti dan galaksi-galaksi di alam semesta berevolusi hingga saat ini. (Live Science/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |