Kepala MAN 1 Pidie, Muhammad Thaifuri, sedang memberi bimbingan kepada siswa kelas persiapan kedinasan.(Dok. MI)
MINAT siswa dan keinginan orang tua agar anak-anak mereka dapat menembus sekolah kedinasan ternyata sangat tinggi. Hal ini terlihat dari membeludaknya pendaftar lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang mengikuti kelas persiapan kedinasan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pidie, Provinsi Aceh.
Tingginya antusiasme ini dipicu oleh banyaknya pilihan sekolah tinggi kedinasan di Indonesia, baik yang berstatus ikatan dinas maupun non-ikatan dinas. Beberapa di antaranya meliputi STMKG, STPDN, STIN, STIS, PKN STAN, STPN, STP, hingga Poltekkes. Namun, selama ini masih terdapat celah dalam kurikulum pendidikan menengah yang belum secara spesifik mempersiapkan siswa menghadapi seleksi ketat lembaga-lembaga tersebut.
Kepala MAN 1 Pidie, Muhammad Thaifuri, mengungkapkan bahwa awalnya pihak sekolah hanya merencanakan pembukaan satu kelompok belajar (lokal) dengan kapasitas 20 hingga 25 peserta. Namun, karena jumlah peminat yang lulus seleksi melampaui ekspektasi, sekolah akhirnya memutuskan untuk membuka dua kelas penuh.
"Rencana sebelumnya cukup satu lokal saja. Karena yang berminat membeludak dan lulus seleksi, tentu harus menampung di Lokal Kedinasan 01 sebanyak 27 siswa dan Lokal Kedinasan 02 mencapai 28 peserta," ujar Thaifuri kepada Media Indonesia, Jumat (24/7).
Fokus pada Karakter dan Akademik
Program kelas persiapan ini dirancang untuk mendukung bakat remaja yang bercita-cita melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ikatan Kedinasan atau mengejar karier profesi tertentu. Melalui program ini, siswa dibekali dengan pembentukan karakter dan penguatan kemampuan akademik agar lebih siap menghadapi seleksi masuk.
Thaifuri menegaskan bahwa program ini merupakan ekstrakurikuler khusus yang dilaksanakan di luar jam pelajaran pokok. Dengan demikian, kurikulum standar Madrasah Aliyah tetap berjalan tanpa gangguan.
"Tidak terganggu mata pelajaran kurikulum standar Madrasah Aliyah. Tapi menjangkau mata pelajaran tertentu oleh pemateri khusus. Makanya sejak awal melakukan seleksi sesuai target yang harus dicapai," jelasnya.
Inovasi Menghadapi Tantangan Global
Meskipun pada awal semester siswa masih mengikuti standar umum dan Masa Pengenalan Lingkungan Madrasah (MPLM) atau masa ta'aruf, intensitas program akan terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu. Fokus utama program ini adalah meningkatkan kedisiplinan, keaktifan, produktivitas, serta kemampuan akademis yang relevan dengan program kuliah kejuruan.
Program ini diharapkan mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global, komunikatif, cerdik, dan berakhlak mulia. Thaifuri juga menyampaikan apresiasinya kepada para orang tua yang telah memberikan kepercayaan penuh terhadap inovasi ini.
"Ini inovasi berbeda dalam rangka menghadapi tantangan global yang semakin bervariasi. Terima kasih atas bantuan semua pihak dan dukungan para orang tua wali. Alhamdulillah, kami telah meniti satu ide cemerlang," pungkasnya. (H-3)

















































