Meski Menyusut, Kondisi Air di Waduk Jatiluhur masih Aman

3 weeks ago 5
Meski Menyusut, Kondisi Air di Waduk Jatiluhur masih Aman Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.(MI/Reza Sunarya)

KONDISI Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus menyusut, hingga tinggal 11 meter dari batas bawah.
Posisi TMA Waduk Jatiluhur saat ini berada di angka 96,33 meter.

Perum Jasa Tirta II (PJT II) memastikan Kendati saat ini TMA Waduk Jatiluhur, Purwakarta, mengalami penurunan. Namun, ketersediaan air masih dalam kondisi terkendali. Berdasarkan penghitungan pengelola, cadangan air yang tersedia masih diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026.

General Manager Wilayah IV PJT II, Anom Soal Herudjito, mengatakan posisi TMA Waduk Jatiluhur saat ini berada di angka 96,33 meter. Posisi tersebut sekitar 0,6 meter di bawah batas operasi normal bawah. Namun, batas bawah operasi waduk masih berada pada angka 87,5 meter.

“Jadi pada hari ini TMA Waduk Jatiluhur 96,33. Itu memang posisinya sekitar 0,6 di bawah batas operasi normal bawah. Tapi sesungguhnya batas bawah operasi kita masih di 87,5,” Kata Anom di Waduk Jatiluhur, Selasa (1/9).

Dengan kondisi tersebut, menurut Anom, masih terdapat cadangan sekitar 11 meter sebelum mencapai batas bawah operasi. “Jadi dari posisi sekarang masih ada cadangan kita 11 meter ke bawah,” ungkapnya.

Anom mengatakan, posisi air yang tinggi pada 1 Januari 2026 membuat waduk memiliki cadangan yang dapat dimanfaatkan saat memasuki musim kering. 

“Alhamdulillah di 2026 ini diuntungkan karena pada 1 Januari 2026 posisi TMA kita tinggi. Jadi kita masih punya tabungan yang kita manfaatkan untuk musim kering ini,” ujarnya.

Meski memiliki cadangan, PJT II tetap melakukan penghitungan secara berkala. Simulasi neraca air dilakukan setiap dua minggu untuk memastikan ketersediaan air tetap mencukupi sampai akhir tahun.

Berdasarkan simulasi PJT II, dari posisi saat ini hingga 31 Desember 2026, ketersediaan air diperkirakan mencapai sekitar 3,6 miliar meter kubik. Jumlah tersebut berasal dari volume efektif yang tersedia saat ini sebesar 1,25 miliar meter kubik.

Selain itu, aliran Sungai Citarum hingga Desember diperkirakan masih memberikan tambahan sekitar 1,97 miliar meter kubik. Sementara dari sumber air setempat, PJT II memperkirakan masih terdapat tambahan sekitar 374 juta meter kubik.

“Untuk dari posisi hari ini ke 31 Desember kita masih punya air itu 3,6 miliar meter kubik,” ujar Anom.

Di sisi lain, air Waduk Jatiluhur harus dialirkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan terbesar adalah sektor irigasi.

PJT II memperkirakan kebutuhan air untuk irigasi hingga 31 Desember 2026 mencapai 1,95 miliar meter kubik. Sementara kebutuhan untuk PDAM dan industri diperkirakan mencapai 708 juta meter kubik.

Dengan memperhitungkan seluruh pasokan dan kebutuhan tersebut, neraca air masih menunjukkan angka positif. 

“Sehingga balancing-nya masih plus 976 juta meter kubik,” kata Anom.

Perhitungan tersebut menjadi dasar PJT II dalam mengatur pengeluaran air dari Waduk Jatiluhur selama musim kering. Simulasi yang dilakukan setiap dua minggu juga digunakan untuk melihat perubahan kondisi pasokan dan kebutuhan air.(RZ/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |