Salah satu gejala sifilis, munculnya ruam di tangan.(Dok. Magnific)
SIFILIS, atau yang sering dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah "raja singa", merupakan salah satu penyakit menular seksual yang paling serius jika tidak ditangani dengan benar. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk jantung dan otak, dalam jangka panjang. Memahami karakteristik penyakit ini sangat penting karena gejalanya sering kali tidak disadari atau menyerupai penyakit kulit biasa pada tahap awal.
Saat ini, lonjakan kasus sifilis tengah terjadi di Jepang. Tren infeksi sifilis di Jepang menunjukkan peningkatan signifikan sejak berakhirnya pandemi Covid-19. Data mencatat jumlah kasus meningkat tajam dari sekitar 6.000 kasus pada tahun 2020 menjadi lebih dari 13.000 kasus pada tahun 2025.
Apa Itu Penyakit Sifilis?
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral bernama Treponema pallidum. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka kecil, lecet, atau selaput lendir (seperti di area kelamin, mulut, atau anus) saat terjadi kontak fisik yang erat dengan orang yang terinfeksi.
Penyakit ini bersifat sistemik, artinya bakteri dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh bagian tubuh. Tanpa pengobatan yang tepat, sifilis dapat bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang nyata, namun tetap merusak organ internal secara perlahan.
Penyebab dan Cara Penularan Sifilis
Penyebab utama sifilis adalah bakteri Treponema pallidum. Penularannya terjadi melalui beberapa cara berikut:
- Hubungan Seksual: Ini adalah jalur penularan yang paling umum, baik melalui hubungan vaginal, anal, maupun oral.
- Kontak Fisik Langsung: Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan luka (chancre) yang aktif pada penderita.
- Penularan Ibu ke Janin (Sifilis Kongenital): Seorang ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan bakteri kepada bayinya melalui plasenta, yang berisiko menyebabkan komplikasi serius hingga kematian janin.
Penting untuk dicatat bahwa sifilis tidak menular melalui penggunaan toilet yang sama, berbagi peralatan makan, kolam renang, atau berbagi pakaian, karena bakteri penyebabnya tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia.
Fase dan Gejala Sifilis
Sifilis berkembang melalui beberapa tahapan atau fase. Setiap fase memiliki gejala yang berbeda-beda:
1. Sifilis Primer
Gejala pertama biasanya muncul sekitar 2 hingga 3 minggu setelah terpapar. Tanda utamanya adalah munculnya luka kecil yang keras dan tidak sakit (disebut chancre) di tempat bakteri masuk ke tubuh. Karena tidak sakit, luka ini sering kali tidak disadari dan akan sembuh dengan sendirinya dalam 3-6 minggu, meskipun bakteri tetap ada di dalam tubuh.
2. Sifilis Sekunder
Beberapa minggu setelah luka primer sembuh, penderita mungkin mengalami ruam yang biasanya muncul di telapak tangan atau telapak kaki. Gejala lainnya meliputi:
- Demam dan kelelahan.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Sakit tenggorokan dan sakit kepala.
- Nyeri otot dan sendi.
3. Sifilis Laten
Pada tahap ini, gejala klinis menghilang secara total. Penderita merasa sehat, namun bakteri tetap hidup dan bersembunyi di dalam tubuh. Fase laten bisa berlangsung selama bertahun-tahun sebelum berkembang ke tahap akhir yang berbahaya.
4. Sifilis Tersier
Ini adalah tahap yang paling berbahaya dan terjadi pada penderita yang tidak diobati selama bertahun-tahun. Sifilis tersier dapat menyebabkan kerusakan permanen pada:
- Otak dan saraf (Neurosifilis).
- Jantung dan pembuluh darah (Kardiovaskular).
- Mata, hati, tulang, dan sendi.
Sifilis yang mencapai tahap tersier dapat menyebabkan kelumpuhan, kebutaan, demensia, hingga kematian. Deteksi dini adalah kunci keselamatan.
Diagnosis dan Pengobatan Sifilis
Diagnosis sifilis dilakukan melalui tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri Treponema pallidum. Dalam beberapa kasus, dokter juga mungkin mengambil sampel cairan dari luka untuk diperiksa di bawah mikroskop.
Kabar baiknya, sifilis sangat mudah diobati jika ditemukan sejak dini. Pengobatan utamanya adalah:
- Antibiotik Penisilin: Suntikan penisilin adalah standar emas pengobatan sifilis. Dosis dan durasi tergantung pada fase penyakit yang dialami pasien.
- Alternatif Antibiotik: Bagi pasien yang alergi terhadap penisilin, dokter akan memberikan antibiotik alternatif seperti doksisiklin atau azitromisin.
Selama masa pengobatan, pasien sangat dilarang melakukan hubungan seksual sampai luka benar-benar sembuh dan hasil tes darah menunjukkan bahwa infeksi telah hilang.
Langkah Pencegahan Sifilis
Mencegah sifilis jauh lebih baik daripada mengobatinya. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang efektif:
- Setia pada Pasangan: Memiliki satu pasangan seksual yang sah dan saling setia menurunkan risiko secara drastis.
- Penggunaan Kondom: Menggunakan kondom secara benar dan konsisten saat berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan, meskipun tidak 100% karena bakteri bisa berada di area yang tidak tertutup kondom.
- Skrining Rutin: Melakukan tes IMS secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki perilaku seksual berisiko tinggi.
- Hindari Narkoba dan Alkohol: Penggunaan zat terlarang sering kali memicu perilaku seksual yang tidak aman.
Kesimpulan
Sifilis adalah penyakit yang berbahaya namun dapat dicegah dan diobati. Kunci utama dalam menghadapi penyakit ini adalah keterbukaan untuk melakukan pemeriksaan medis jika merasakan gejala atau memiliki riwayat perilaku berisiko. Jangan melakukan pengobatan mandiri dengan membeli antibiotik sembarangan, karena dosis yang tidak tepat justru dapat memicu resistensi bakteri. (H-3)


















































