Terapi kanker payudara bersifat personal, mulai dari faktor stadium hingga profil molekuler.(Dok. Halodoc)
DOKTER Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi dan Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Santi Christiani Gultom menjelaskan bahwa terapi kanker payudara bersifat personal dan dapat berbeda antar-pasien meski memiliki jenis kanker yang sama. Hal ini dikarenakan dokter tidak hanya menentukan pengobatan berdasarkan organ yang terkena, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik penyakit dan kondisi fisik pasien secara menyeluruh.
“Jadi memang pada kenyataannya adalah kita tidak mengobati berdasarkan kankernya, berdasarkan organnya,” ujar Santi dalam acara MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9).
Santi memaparkan bahwa stadium kanker dan keberadaan metastasis (penyebaran) menjadi faktor utama penentu pilihan terapi. Pasien dengan stadium awal tentu mendapatkan pendekatan yang berbeda dibandingkan pasien yang kankernya telah menyebar ke organ lain. Selain itu, ukuran tumor juga memengaruhi tahapan pengobatan, misalnya menentukan apakah diperlukan tindakan tertentu sebelum operasi dilakukan.
Faktor krusial lainnya adalah tingkat agresivitas tumor yang dilihat melalui profil molekuler. Dokter akan memeriksa status estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR), human epidermal growth factor receptor 2 (HER2), dan Ki-67. Data ini membantu dokter mengidentifikasi subtipe kanker payudara seperti Luminal A, Luminal B, triple negative, atau HER2 positif.
“Jadi ada beberapa tipe dari breast cancer, dari Luminal B, Luminal A, kemudian Triple Negative atau HER2 positif itu beda-beda pengobatannya,” tambahnya.
Selain aspek medis kanker, kondisi personal pasien turut menjadi pertimbangan. Dokter harus mengevaluasi usia, kondisi fisik, fungsi organ, serta penyakit penyerta (komorbid) seperti gangguan ginjal, jantung, atau diabetes. Menurut Santi, pemberian obat kanker tidak boleh sembarangan dan wajib disesuaikan dengan komorbiditas masing-masing individu.
Terakhir, tujuan pengobatan juga memengaruhi agresivitas terapi. Pasien dengan tujuan kuratif (penyembuhan) mungkin menerima pengobatan yang lebih intensif. Sementara itu, terapi paliatif difokuskan untuk memperpanjang usia dan mempertahankan kualitas hidup pasien dalam kondisi tertentu.
Santi menegaskan bahwa seluruh pertimbangan medis ini membuat penanganan kanker payudara saat ini semakin spesifik dan tidak dapat diseragamkan, guna memberikan hasil yang optimal bagi setiap pasien. (Ant/Z-10)


















































