Pelatih Spanyol Luis de la Fuente(AFP)
Ketika Luis de la Fuente ditunjuk sebagai pelatih timnas Spanyol pada Desember 2022, tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan federasi. Pasalnya, nama De la Fuente terdengar asing di tengah tradisi La Roja yang identik dengan pelatih-pelatih bernama besar. Saking tidak banyak dikenal, sebagian publik bahkan sempat menyindirnya dengan pertanyaan "Luis de la siapa?".
Tiga setengah tahun kemudian, semua keraguan itu terjawab. Pelatih berusia 65 tahun tersebut sukses mengubah Spanyol menjadi tim paling solid. Setelah mempersembahkan gelar UEFA Nations League 2023 dan Piala Eropa 2024, De la Fuente sekarang membawa La Roja melangkah ke final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan favorit juara Prancis.
Kesetiaan terhadap filosofi itulah yang kembali terlihat saat Spanyol menyingkirkan Prancis 2-0 pada semifinal, Rabu (15/7) WIB. Di hadapan deretan bintang seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga Michael Olise, Spanyol tidak mengubah identitasnya. La Roja tetap mengendalikan permainan lewat penguasaan bola, pressing agresif, dan kombinasi umpan cepat yang menjadi ciri khas era De la Fuente.
Tak lama setelah peluit panjang berbunyi, De la Fuente berjalan menyusuri lapangan sambil memberi selamat kepada para pemainnya. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya memancarkan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Bagi sang pelatih, kemenangan itu menjadi bukti keyakinan terhadap proses akhirnya membuahkan hasil.
"Berada di final Piala Dunia adalah tanggung jawab besar. Ini sebuah kehormatan dan hak istimewa yang hanya dirasakan segelintir orang. Kami harus benar-benar menikmati momen ini," kata De la Fuente kepada FIFA.
"Saat kami memulai perjalanan ini hampir empat tahun lalu, kami memiliki sebuah gagasan. Dan kami tetap setia pada gagasan itu hingga membawa kami sejauh ini. Karena itu, sekali lagi saya katakan, saya sangat bangga," tambahnya.
Perjalanan Spanyol dibangun dalam jangka panjang. De la Fuente memilih bertahan pada gagasan yang dia yakini sejak hari pertama menjabat. Filosofi penguasaan bola, umpan-umpan pendek, dan permainan kolektif tetap dipertahankan, bahkan ketika hasil belum sepenuhnya memuaskan.
Hal itu terlihat lantaran perjalanan Spanyol menuju final juga tidak sepenuhnya mulus. Lamine Yamal dan kawan-kawan mengawali turnamen dengan hasil imbang tanpa gol melawan debutan Tanjung Verde. Mereka kemudian harus menunggu gol di menit-menit akhir untuk menyingkirkan Portugal di babak 16 besar. Begitu juga saat mengalahkan Belgia pada perempat final.
Namun, ketika menghadapi Prancis di semifinal La Roja tampil jauh lebih matang. Pencapaian Spanyol menuju final pun terbilang mengejutkan. Setelah menjadi juara dunia pada 2010, La Roja selalu gagal melangkah jauh dalam tiga edisi berikutnya. Mereka tersingkir di fase grup pada 2014, lalu dua kali terhenti di babak 16 besar pada 2018 dan 2022.
Di balik perkembangan itu, De la Fuente sebenarnya telah membangun fondasi sejak lama. Selama lebih dari satu dekade menangani tim kelompok usia Spanyol, dia membina sejumlah pemain yang kini menjadi tulang punggung tim senior. Sebut saja Rodri, Dani Olmo, Mikel Oyarzabal, Unai Simon, hingga Mikel Merino pernah dilatihnya pada timnas kelompok umur. Bersama mereka, De la Fuente meraih gelar Piala Eropa U-19 dan U-21.
De la Fuente juga membangun hubungan yang melampaui sekadar relasi pelatih dan pemain. Kedekatan dengan pemain menurut banyak pihak menjadi kekuatan tersembunyi Spanyol. Para pemain memahami betul yang diinginkan pelatih. De la Fuente juga mengetahui karakter setiap anak asuhnya karena sudah mendampingi mereka sejak usia muda.
"Kami berhasil menghidupkan kembali semangat Spanyol 2010. Karakter tim ini terlihat dari para pemain yang tidak tampil pun tetap bertahan di lapangan untuk berlatih setelah pertandingan. Semua ini adalah sebuah proses, dan sejak awal memang kami rancang agar mencapai momen ini dalam kondisi terbaik," tutur De la Fuente.
Pelatih yang dulu dipandang sebagai pilihan biasa saja itu tinggal selangkah lagi mengukir sejarah. Satu kemenangan di final akan melengkapi transformasi besar Spanyol di tangan seorang Luis de la Fuente. (E-3)

















































