Jakarta (ANTARA) - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026. Setelah episode tersebut berakhir, gunung api masih mengalami erupsi Strombolian dan tingkat aktivitasnya tetap berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi juga masih mengingatkan adanya potensi bahaya berupa awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Istilah lava, lahar, dan awan panas cukup sering muncul ketika membahas erupsi gunung api. Ketiganya sama-sama berkaitan dengan aktivitas vulkanik, tetapi sebenarnya merupakan fenomena yang berbeda.
Perbedaannya tidak hanya terletak pada bentuk materialnya, tetapi juga bagaimana material tersebut terbentuk dan bergerak.
Baca juga: 11 gunung api di Indonesia yang erupsi sepanjang 2026
Lantas, apa perbedaan lava, lahar, dan awan panas?
Lava merupakan magma yang keluar ke permukaan
Sederhananya, lava adalah magma yang sudah keluar dari dalam bumi dan mencapai permukaan.
Magma merupakan batuan cair bersuhu sangat tinggi yang berada di bawah permukaan. Ketika magma keluar melalui kawah atau rekahan saat erupsi, material tersebut kemudian disebut lava.
Lava dapat mengalir mengikuti bentuk permukaan tanah. Kecepatan alirannya sangat bergantung pada sifat magma, terutama tingkat kekentalannya, serta kemiringan medan.
Pada beberapa erupsi, lava dapat bergerak relatif lambat sehingga masih bisa diamati dari jarak aman. Namun, lava tetap memiliki suhu sangat tinggi dan dapat membakar atau menimbun apa pun yang dilewatinya.
Dalam laporan mengenai Gunung Anak Krakatau pada September 2026, Badan Geologi menyebut fenomena erupsi menerus sempat menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava.
Jadi, gampangnya, lava adalah magma yang sudah berada di permukaan bumi.
Baca juga: 7 tanda gunung api akan meletus yang perlu diketahui
Lahar merupakan aliran material vulkanik bercampur air
Berbeda dengan lava, lahar tidak harus berupa material batuan cair.
Lahar merupakan aliran campuran material vulkanik dengan air yang bergerak mengikuti lereng atau alur sungai. Materialnya dapat berupa abu, pasir, kerikil, batu, dan endapan vulkanik lainnya.
Air yang memicu lahar bisa berasal dari hujan deras, danau kawah, maupun sumber air lainnya.
Karena material vulkanik yang sudah mengendap dapat terbawa air, lahar bisa terjadi bukan hanya ketika gunung sedang mengalami erupsi. Endapan material dari erupsi sebelumnya juga dapat menjadi sumber lahar ketika hujan deras turun di kawasan gunung.
Penelitian dalam Jurnal Geologi Indonesia menjelaskan bahwa lahar di Gunung Merapi dapat terbentuk dari endapan material vulkanik yang kemudian terbawa oleh curah hujan tinggi.
Karena mengalir mengikuti lembah dan sungai, wilayah yang berada di sekitar alur sungai dari gunung api menjadi salah satu kawasan yang perlu diperhatikan ketika hujan deras terjadi setelah erupsi.
Jadi, lahar lebih tepat dipahami sebagai aliran material vulkanik yang bercampur dengan air, bukan lava yang mencair karena hujan.
Awan panas bergerak sebagai aliran gas dan material vulkanik panas
Nah, istilah yang satu ini sering menimbulkan salah paham.
Awan panas bukan sekadar asap panas yang keluar dari kawah. Dalam konteks bahaya gunung api, awan panas dapat berupa campuran gas vulkanik panas, abu, dan fragmen batuan yang bergerak menuruni lereng dengan kecepatan tinggi.
Salah satu penyebabnya adalah runtuhnya material erupsi atau bagian kubah lava. Ketika material panas tersebut bergerak menuruni lereng, terbentuk aliran yang sangat berbahaya.
Awan panas dapat bergerak mengikuti lembah dan kontur medan. Karena membawa material bersuhu tinggi dan dapat bergerak cepat, fenomena ini menjadi salah satu ancaman utama pada beberapa jenis erupsi.
Badan Geologi juga memasukkan awan panas sebagai salah satu potensi bahaya yang perlu diwaspadai di sekitar Gunung Anak Krakatau selama aktivitas Level III.
Baca juga: 7 jenis letusan gunung api dan karakteristiknya
Jadi, apa perbedaan ketiganya?
Jika dibuat sesederhana mungkin, perbedaannya seperti ini:
Lava: magma yang keluar ke permukaan dan kemudian mengalir sebagai batuan cair.
Lahar: campuran air dengan material vulkanik yang mengalir mengikuti lereng, lembah, atau sungai.
Awan panas: campuran gas vulkanik panas dan material vulkanik yang bergerak sebagai aliran panas, umumnya dengan kecepatan tinggi.
Ketiganya juga memiliki jalur pergerakan dan karakteristik bahaya yang berbeda. Lava cenderung mengikuti permukaan dan jalur yang lebih rendah, lahar banyak mengikuti alur sungai, sedangkan awan panas dapat bergerak cepat mengikuti lereng dan lembah.
Mengapa penting mengetahui perbedaannya?
Memahami istilah tersebut bukan hanya soal pengetahuan tentang gunung api. Perbedaan karakteristiknya membantu masyarakat memahami jenis bahaya yang mungkin muncul ketika gunung mengalami peningkatan aktivitas.
Misalnya, hujan deras setelah erupsi perlu diwaspadai karena dapat membawa endapan vulkanik menjadi lahar. Sementara itu, ketika aktivitas erupsi menghasilkan material panas atau terjadi runtuhan di sekitar kawah, ancaman awan panas juga perlu diperhatikan.
Karena setiap gunung api memiliki karakteristik berbeda, potensi bahayanya juga tidak selalu sama. Itulah sebabnya masyarakat di kawasan rawan perlu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), termasuk mengenai status aktivitas dan wilayah yang harus dihindari.
Baca juga: Apa yang terjadi di dalam gunung sebelum erupsi? Ini prosesnya
Baca juga: BNPB petakan kesiapsiagaan bahaya tsunami di kawasan pesisir Banten
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)









