Kronologi Banjir Bandang Nepal Akibat Gletser Runtuh: Korban Lampaui 1.000 Jiwa

2 weeks ago 7
 Korban Lampaui 1.000 Jiwa Ilustrasi(Dok UMJ)

Korban jiwa akibat bencana banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus melonjak hingga melampaui 1.000 jiwa. Laporan The Japan Times mencatat jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 1.050 orang, sementara data kepolisian Nepal dan National Disaster Risk Reduction and Management Authority mencatat sedikitnya 794 korban tewas di Nepal serta 16 korban tewas di Tibet.

Lebih dari 4.000 orang dilaporkan masih hilang, termasuk 583 warga negara asing dan 546 warga di wilayah Tibet. Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk membebaskan ratusan pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), di tengah tumpukan 2,2 juta ton puing material yang menghancurkan pemukiman serta akses jalan.

Kronologi Terjadinya Banjir Bandang

Bencana ini berkembang dalam waktu yang sangat singkat melalui beberapa tahapan utama:

  • Runtuhnya es di ketinggian: Peristiwa bermula pada 26 Agustus saat bagian dari gletser di dekat puncak Langtang Lirung, Tibet (sekitar 20 kilometer timur laut perbatasan Nepal) runtuh secara mendadak. Pakar geosains Simon Cook dari University of Dundee menyebutkan bagian bawah gletser runtuh ke arah barat daya lalu meluncur ke arah barat.
  • Getaran dahsyat dan pembentukan bendungan: Benturan massa es dan batuan raksasa ke dasar lembah memicu getaran seismik setara gempa bermagnitudo 4,4 hingga 5,2 berdasarkan data US Geological Survey (USGS). Material longsoran ini menutup aliran Anak Sungai Lhende dan membentuk danau penampungan sementara.
  • Jebolnya bendungan alami: Tekanan air yang terkumpul membuat bendungan alami tersebut jebol. Gelombang air bercampur lumpur meluncur deras ke hilir Sungai Bhotekoshi dan Trishuli sejauh 100 kilometer hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
  • Dampak kerusakan di hilir: Banjir lumpur menerjang kawasan pemukiman, Pos Pemeriksaan Perbatasan Rasuwagadhi di Nepal, serta Pelabuhan Gyirong di Tibet. Stasiun pemantau otomatis di hulu hanyut sebelum sempat mengirimkan sinyal peringatan dini.

Pemicu Utama: Glacial Collapse

Meskipun sempat diduga dipicu gempa tektonik, USGS mengonfirmasi bahwa pemicu utamanya adalah glacial collapse atau keruntuhan gletser. Benturan material es dan batu yang sangat masif ke dasar lembah menciptakan gelombang seismik yang tercatat oleh instrumen geologi.

Profesor ilmu bumi dari Oxford University, Mike Searle, menjelaskan adanya kemungkinan material longsor membendung sungai terlebih dahulu sebelum akhirnya pecah menjadi banjir bandang tunggal yang sangat besar. Faktor pemanasan global menjadi perhatian utama, di mana perubahan iklim mempercepat pelelehan gletser dan mencairkan lapisan permafrost yang merekatkan lereng gunung.

Pernyataan Pemerintah: Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menegaskan bahwa bencana ini adalah sinyal nyata meningkatnya risiko krisis iklim. Ia mendesak masyarakat internasional untuk memperhatikan konsekuensi perubahan iklim yang dialami Nepal.

Penanganan Darurat dan Tantangan Pencarian

Upaya penyelamatan menghadapi kendala berat akibat medan yang rusak parah. Sejauh ini, lebih dari 11.000 orang telah dievakuasi, dengan 8.730 orang di antaranya diselamatkan oleh badan penanggulangan bencana Nepal. Pemerintah mengerahkan alat berat, helikopter, dan ekskavator untuk menembus lokasi terisolasi.

Pencarian saat ini difokuskan pada terowongan PLTA Trishuli di Distrik Rasuwa, tempat sekitar 300 hingga 500 pekerja diperkirakan terjebak. "Pengamatan awal kami menunjukkan tidak mungkin bagi manusia untuk masuk ke dalam terowongan tanpa bantuan alat berat seperti buldoser," ujar Asish Gurung, pemandu gunung yang terlibat dalam aksi penyelamatan.

Dukungan internasional mulai mengalir, termasuk tim khusus dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan. Total bantuan luar negeri yang tercatat telah melampaui AS$42 juta (sekitar Rp660 miliar). Namun, International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) memperingatkan potensi banjir susulan akibat akumulasi 2,5 juta meter kubik air di perbatasan, sehingga evakuasi tetap dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |