Kondisi lingkungan yang rusak parah akibat diterjang banjir bandang di Nepal.(Anadolu)
JUMLAH korban tewas akibat banjir bandang yang melanda wilayah utara Nepal dilaporkan terus meningkat. Berdasarkan laporan Kathmandu Post yang mengutip data kepolisian setempat pada Kamis (27/8), total korban meninggal dunia kini telah mencapai 289 orang.
Bencana ini bermula pada Rabu (26/8) pagi, ketika arus air yang sangat deras mengalir dari wilayah China menuju Sungai Bhotekoshi di Nepal. Kondisi ini memaksa otoritas Nepal mengeluarkan peringatan siaga tinggi bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir guna mengantisipasi luapan air susulan.
Laporan awal menunjukkan bahwa banjir besar tersebut dipicu oleh aktivitas seismik berupa gempa bumi yang kemudian memicu tanah longsor skala besar. Material longsoran yang masuk ke aliran sungai memperparah terjangan air ke pemukiman warga.
Di sisi lain perbatasan, situasi dilaporkan tidak kalah kritis. China Central Television (CCTV) melaporkan adanya bencana longsor lumpur di dekat perlintasan perbatasan Gyirong (Jilong) yang menghubungkan China dan Nepal. Jumlah orang yang dinyatakan hilang di lokasi tersebut melonjak drastis.
| Korban Tewas (Nepal) | 289 Orang |
| Korban Hilang (Perbatasan Gyirong) | 558 Orang |
| Warga Negara Asing (Hilang) | 260 Orang |
| Lokasi Terdampak Utama | Sungai Bhotekoshi & Perbatasan Gyirong |
| Pemicu Utama | Gempa Bumi dan Tanah Longsor |
Proses Verifikasi Masih Berjalan
Hingga saat ini, otoritas terkait masih melakukan pendataan dan verifikasi mendalam terhadap jumlah korban, terutama terkait 260 warga negara asing yang masuk dalam daftar orang hilang. Tim penyelamat di kedua negara terus berupaya melakukan pencarian di tengah medan yang sulit akibat lumpur dan arus sungai yang masih fluktuatif.
Otoritas Nepal mengimbau warga di sepanjang bantaran Sungai Bhotekoshi untuk tetap berada di zona aman dan mematuhi instruksi evakuasi, mengingat risiko banjir susulan masih tinggi akibat kondisi cuaca dan stabilitas tanah pascagempa.
Data mengenai jumlah korban kemungkinan masih akan berubah seiring dengan masuknya laporan dari wilayah-wilayah terpencil yang sebelumnya terisolasi akibat longsor. (Sputnik/RIA NovostiAnt/I-1)


















































