Konsumsi Gula Berlebihan Tingkatkan Risiko Kerusakan Ginjal

3 weeks ago 23
Konsumsi Gula Berlebihan Tingkatkan Risiko Kerusakan Ginjal Dokter spesialis memperingatkan bahaya konsumsi gula berlebihan yang memicu diabetes dan obesita,(Dok. Diabetasol)

KONSUMSI minuman manis secara berlebihan tidak secara langsung menyebabkan gagal ginjal, namun asupan gula yang tinggi meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Jika kondisi diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi memicu kerusakan ginjal yang serius.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong, Mutalib Abdullah, menjelaskan bahwa masyarakat perlu mewaspadai efek domino dari gula.

"Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes," ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (1/9).

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan tren penyakit ginjal kronis mulai merambah usia muda. Prevalensi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 0,02%, usia 25-34 tahun sebesar 0,07%, dan usia 35-44 tahun mencapai 0,11%. Sementara itu, data BPJS Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis telah menjalani hemodialisis sepanjang tahun 2024.

Menurut dr. Mutalib, diabetes dan hipertensi adalah dua faktor utama penyebab penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah di organ tersebut. Kerusakan ini sering kali berlangsung perlahan tanpa gejala khas pada tahap awal.

Selain faktor gula, risiko kerusakan ginjal juga dipicu oleh pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, serta penggunaan obat pereda nyeri atau suplemen tanpa pengawasan medis. Gejala yang patut diwaspadai meliputi perubahan frekuensi urine, urine berbusa, pembengkakan kaki, mual, hingga tekanan darah yang sulit dikontrol.

Untuk deteksi dini, masyarakat disarankan melakukan tes darah guna mengetahui kadar kreatinin dan estimated glomerular filtration rate (eGFR), serta pemeriksaan urine. Pemeriksaan berkala sangat dianjurkan bagi individu dengan riwayat hipertensi, diabetes, atau batu saluran kemih dalam keluarga.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, Margareth Aryani Santoso, menambahkan bahwa penanganan penyakit ginjal memerlukan pendekatan menyeluruh. Saat ini, fasilitas seperti Urology & Nephrology Clinic telah tersedia untuk memberikan layanan mulai dari deteksi dini hingga tindakan minimal invasif dan hemodialisis bagi pasien yang membutuhkan. (Ant/Z-10)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |