Konsumsi Gula Berlebih Tingkatkan Risiko Demensia pada Lansia

3 weeks ago 20
Konsumsi Gula Berlebih Tingkatkan Risiko Demensia pada Lansia Ilustrasi(Magnific)

KONSUMSI gula tidak hanya berdampak pada peningkatan berat badan atau risiko diabetes, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan otak. Penelitian ilmiah terbaru menunjukkan pola makan tinggi gula dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia dan penyakit Alzheimer saat memasuki usia lanjut.

Studi berbasis observasi jangka panjang yang dipublikasikan dalam repositori medis PubMed mengamati perkembangan kesehatan lansia selama bertahun-tahun. Para peneliti menemukan adanya korelasi signifikan antara jumlah gula yang dikonsumsi harian dengan penurunan fungsi kognitif.

Dalam hasil penelitian tersebut, partisipan yang berada pada kelompok konsumsi gula tertinggi memiliki risiko hingga dua kali lipat lebih besar terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah paling rendah. Peningkatan risiko ini diukur setelah memperhitungkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, hingga riwayat genetik (alel APOE ε4).

Jenis gula yang menjadi perhatian utama dalam riset ini meliputi fruktosa dan sukrosa. Fruktosa umumnya ditemukan pada minuman bersoda, minuman manis kemasan, camilan olahan, serta makanan penutup. Sementara itu, sukrosa atau gula pasir biasa sering dijumpai pada permen, sereal komersial, dan berbagai hidangan manis lainnya. Analisis menunjukkan kelompok yang mengonsumsi fruktosa dan sukrosa dalam jumlah tinggi memiliki peningkatan risiko demensia masing-masing hingga 2,8 kali dan 1,93 kali lipat.

Para ahli menjelaskan bahwa asupan gula berlebih berpotensi memicu resistensi insulin di dalam tubuh. Kondisi ini dapat merembet ke jaringan otak, sehingga mengganggu kerja reseptor insulin dan memicu peradangan kronis (inflammation). Peradangan serta gangguan metabolisme glukosa di otak inilah yang diduga mempercepat penumpukan plak protein amyloid-beta, salah satu tanda utama berkembangnya penyakit Alzheimer.

Selain berdampak pada demensia secara umum, fluktuasi kadar gula darah yang tajam setelah makan juga dinilai berbahaya bagi pembuluh darah otak. Kesehatan sistem kardiovaskular yang terganggu akibat tingginya asupan gula pada akhirnya dapat memperburuk aliran darah ke otak dan menurunkan daya ingat.

Untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang, para peneliti dan pakar kesehatan merekomendasikan pengurangan asupan gula tambahan dan minuman manis. Sebagai gantinya, penerapan pola makan seimbang seperti Diet Mediterania atau diet MIND, yang kaya akan buah, sayuran, biji-bijian, dan lemak sehat, sangat disarankan guna menekan risiko penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia. (Eating Well/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |