Kesuksesan Debut Kemenhaj 2026 dan Visi Baru Ekosistem Haji Indonesia

4 hours ago 2

INFO TEMPO - Sebagai anggota Amirul Hajj pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, saya menjadi saksi langsung atas sebuah torehan sejarah: suksesnya debut perdana Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia. Di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia sekaligus Amirul Hajj, Dr Mochamad Irfan Yusuf yang senantiasa mengedepankan keteladanan dan integritas, seluruh elemen penyelenggara menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Etos kerja yang responsif, simpatik, dan solutif tercermin dengan sangat jelas dalam setiap gerak langkah para petugas haji di lapangan.

Evaluasi kami menunjukkan bahwa berbagai parameter kinerja yang krusial mulai dari layanan kesehatan, logistik, transportasi, hingga pemondokan berjalan dengan sangat baik dan mengalami peningkatan kualitas yang jauh lebih terukur dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Penyederhanaan tata kelola layanan di Arab Saudi melalui sistem syarikah, penguatan pemeriksaan kesehatan berbasis istitha’ah sejak di Tanah Air, hingga ketepatan jadwal dan kenyamanan akomodasi, membuat jemaah merasakan pelayanan yang jauh lebih tertata. Capaian ini patut kita syukuri sekaligus kita apresiasi setinggi-tingginya.

Namun, kesuksesan operasional ini harus menjadi batu loncatan untuk mewujudkan visi yang lebih besar ke depan. Visi pengelolaan haji dan umrah kita tidak boleh lagi sekadar puas dengan peran sebagai event organizer yang memfasilitasi keberangkatan dan kepulangan jemaah. Kita harus mulai menata ekosistem bisnis dan tata niaga yang mampu memastikan bahwa perputaran dana raksasa ini memberikan dampak ekonomi yang kembali mengalir ke Tanah Air.

Secara hitungan bisnis, ini adalah sektor yang menjanjikan keuntungan pasti. Indonesia memiliki captive market yang luar biasa solid: kuota haji yang pada 2026 mencapai 221 ribu jemaah, ditambah lebih dari dua juta jemaah umrah setiap tahunnya. Permintaan sebesar ini berulang, terukur, dan loyal sebuah fondasi pasar yang jarang dimiliki sektor lain mana pun.

Untuk menangkap peluang tersebut, Indonesia perlu segera melakukan investasi strategis dan masif di sektor-sektor hulu hingga hilir. Investasi pada fasilitas kesehatan, transportasi terintegrasi, perhotelan, hingga penyediaan dapur fresh meal dan Ready to Eat (RTE) beserta seluruh ekosistemnya adalah sebuah keharusan. Penguasaan ekosistem penunjang ini pada akhirnya tidak hanya berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memberikan kita kendali penuh (control) untuk melakukan problem solving yang cepat dan tepat di lapangan, tanpa harus bergantung secara pasif pada penyedia jasa eksternal.

Sebagai pemimpin institusi akademik, saya meyakini transformasi ini menuntut perencanaan berbasis data, riset, dan penyiapan sumber daya manusia yang andal ruang kontribusi yang siap diisi oleh perguruan tinggi. Sukses debut Kemenhaj 2026 telah membuktikan bahwa kita mampu melayani dengan paripurna. Kini saatnya keberhasilan itu kita jadikan fondasi bagi ekosistem haji yang lebih mandiri dan berdampak nyata bagi bangsa. (*)

Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU,

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |