Kemendukbangga Ungkap Tren Usia Menikah di Indonesia Semakin Matang

4 hours ago 2
Kemendukbangga Ungkap Tren Usia Menikah di Indonesia Semakin Matang Pasangan pengantin mengikuti prosesi nikah massal pada Nikah Fest 2026 di Jakarta.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengungkapkan adanya tren pergeseran usia menikah di Indonesia yang kini cenderung semakin matang. Fenomena ini dinilai sebagai sinyal positif terhadap pendewasaan usia pernikahan di tanah air.

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menjelaskan bahwa saat ini pernikahan pada kelompok usia 15–19 tahun relatif sedikit. Sebaliknya, terjadi peningkatan signifikan pada kelompok usia yang lebih dewasa.

"Tren usia menikah semakin matang karena banyak anak muda memilih menyelesaikan kuliah, bekerja terlebih dahulu, atau menikmati masa pengembangan diri (me time) sebelum menikah," ujar Bonivasius dalam taklimat media menuju Hari Kependudukan Sedunia di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Pergeseran Kelompok Usia Menikah

Data menunjukkan bahwa jumlah pernikahan mengalami peningkatan pada kelompok usia 25–29 tahun. Bahkan, kelompok usia 35–39 tahun kini menjadi kelompok dengan jumlah pasangan menikah paling tinggi. Meski demikian, Bonivasius mencatat masih adanya tantangan terkait pola kelahiran anak pada perempuan usia 15–19 tahun, walaupun jumlahnya tergolong kecil.

Terkait angka kelahiran, mayoritas keluarga di Indonesia saat ini memiliki 1–2 anak. Namun, kesenjangan angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) antarprovinsi masih terlihat jelas. Di beberapa wilayah Indonesia Timur, seperti Merauke, masih ditemukan keluarga dengan 3 hingga 6 anak.

Berdasarkan Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), TFR Indonesia berada di angka 2,12. Angka ini dinilai masih dalam rentang ideal (2,0–2,2) untuk memastikan regenerasi penduduk yang seimbang.

Investasi Kualitas Manusia dan Dividen Demografi

Bonivasius menekankan bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar melalui bonus demografi, dengan 68,9 persen penduduk berada di usia produktif. Namun, ia memperingatkan bahwa peluang ini hanya akan menjadi "dividen demografi" jika ada investasi nyata pada kualitas sumber daya manusia.

"Tanpa investasi kualitas manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas SDM, peluang tersebut tidak akan menghasilkan manfaat ekonomi," tegasnya.

Standar Tinggi Generasi Muda

Mengutip survei demografi UNFPA di 73 negara, ditemukan bahwa lebih dari dua pertiga responden masih menganggap pernikahan sebagai jalur hidup ideal. Hal ini mematahkan anggapan bahwa generasi muda mulai meninggalkan nilai-nilai keluarga.

Meski tetap ingin menikah, generasi muda kini menetapkan standar yang lebih tinggi. Stabilitas finansial serta kesehatan fisik dan mental yang prima menjadi syarat mutlak sebelum memasuki jenjang pernikahan. Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan akses hunian tetap menjadi faktor utama yang membuat mereka menunda untuk memiliki keturunan. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |