Kadar Testosteron Terlalu Rendah atau Tinggi Picu Risiko Aritmia Jantung

2 weeks ago 5
Kadar Testosteron Terlalu Rendah atau Tinggi Picu Risiko Aritmia Jantung Ilustrasi(Magnific)

PENGGUNAAN terapi pengganti testosteron (Testosterone Replacement Therapy/TRT) kian populer di kalangan pria paruh baya hingga lansia. Namun, sebuah tinjauan bukti ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the Endocrine Society memberikan peringatan penting terkait kesehatan jantung.

Riset tersebut mengungkapkan pria dengan kadar testosteron yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk terkena fibrilasi atrium (atrial fibrillation). Fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung (aritmia) yang dapat meningkatkan risiko stroke serta sering kali memerlukan pengobatan pengencer darah seumur hidup.

Rajat S. Barua, M.D., Ph.D., peneliti pendamping dari Kansas City Veterans Affairs Medical Center di Kansas City, Missouri, menjelaskan pentingnya penyesuaian dosis terapi hormon secara personal.

"Terapi pengganti testosteron diresepkan secara luas untuk pria paruh baya dan lansia, dan fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang meningkatkan risiko stroke serta sering kali memerlukan pengobatan pengencer darah seumur hidup. Makalah kami meninjau bukti yang ada mengenai apakah terapi testosteron aman atau tidak aman dalam kaitannya dengan fibrilasi atrium dan rentang kadar testosteron yang terkait dengan risiko terendah," ujar Barua.

Ia menambahkan bahwa kadar testosteron yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak sama-sama memicu risiko gangguan irama jantung melalui mekanisme biologis yang berbeda.

"Kadar testosteron yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak tampak meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui mekanisme biologis yang terpisah, yang berarti dosis dan kadar sasaran sangat menentukan. Apa yang ditegaskan oleh tinjauan ini adalah bahwa pengobatan harus disesuaikan secara individual dan dipantau," tutur Barua.

Pola Kurva-U dan Rekomendasi Medis

Berdasarkan analisis data, para peneliti menyimpulkan bahwa hubungan antara kadar testosteron dan risiko fibrilasi atrium membentuk pola kurva berbentuk huruf U (U-shaped pattern). Risiko gangguan irama jantung tercatat paling rendah pada pria yang memiliki kadar testosteron berada di tengah-tengah rentang normal.

Pola ini didukung oleh studi populasi berskala besar serta penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa kondisi testosteron yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat mengganggu sel-sel jantung melalui dua jalur biologis yang berbeda.

Bagi pria yang membutuhkan terapi pengganti testosteron, para penulis studi menekankan agar klinisi menargetkan pemulihan kadar testosteron total ke rentang tengah normal (sekitar 350–550 ng/dL), bukannya mendorong hingga ke batas atas. Penggunaan formulasi pelepasan stabil serta pemantauan terstruktur sangat direkomendasikan untuk meminimalkan risiko gangguan kardiovaskular. (EArth/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |