Ilustrasi - Bendera negara Jepang dan Amerika Serikat.(Antara/Anadolu)
MENTERI Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menyepakati pentingnya koordinasi berkelanjutan untuk memastikan pergerakan nilai tukar yen tetap terkendali. Kesepakatan ini dicapai guna menjaga stabilitas keuangan global yang sempat terguncang akibat fluktuasi mata uang Jepang tersebut.
Pertemuan bilateral tersebut berlangsung pada Senin (31/8) di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Kelompok 20 (G20) di Asheville, North Carolina. Katayama menegaskan bahwa stabilitas yen memiliki dampak sistemik terhadap pasar internasional.
"Kami menegaskan bahwa nilai tukar yen yang terkendali menjadi sangat penting bagi stabilitas pasar keuangan global, termasuk di Amerika Serikat, dan bahwa upaya terkoordinasi berkelanjutan antara Jepang dan AS memiliki kontribusi dalam mencapai tujuan bersama ini," ujar Katayama usai pertemuan.
Rekor Intervensi Pasar
Kedua pejabat tersebut meninjau kembali efektivitas intervensi bersama yang dilakukan baru-baru ini. Langkah tersebut merupakan intervensi pembelian yen terkoordinasi pertama sejak krisis keuangan Asia tahun 1998, yang dipicu oleh pelemahan yen ke level terendah dalam 40 tahun.
| Waktu Intervensi Utama | 31 Juli 2026 |
| Level Terendah Yen | Mendekati 164 per Dolar AS |
| Total Dana Intervensi | 15,4 Triliun Yen (± Rp1,7 Kuadriliun) |
| Posisi Akhir Pekan Lalu | Melewati level psikologis 160 per Dolar AS |
Meskipun Jepang telah menggelontorkan dana sebesar 15,4 triliun yen—angka tertinggi dalam sejarah—antara akhir Juli hingga Agustus, penguatan yen bersifat sementara. Mata uang tersebut kembali melemah melewati level psikologis 160 per dolar AS pada akhir pekan lalu, menghapus sebagian besar keuntungan dari intervensi sebelumnya.
Kesiapan Tindakan Tegas
Katayama enggan memberikan penilaian apakah pergerakan yen saat ini tergolong teratur atau tidak. Namun, ia memberikan sinyal kuat bahwa Tokyo tetap siap mengambil tindakan tegas terhadap fluktuasi yang dianggap tidak teratur atau spekulatif.
Di sisi lain, Scott Bessent sebelumnya memperkirakan bahwa Pemerintah Jepang dan Bank of Japan (BoJ) akan mengambil langkah-langkah lanjutan untuk mendorong penguatan yen. Meski demikian, dalam pertemuan yang berlangsung selama 30 menit tersebut, pejabat senior Kementerian Keuangan Jepang menyebutkan bahwa Bessent tidak menyampaikan permintaan khusus kepada pihak Jepang. (Anadolu/Ant/I-1)
Koordinasi antara dua kekuatan ekonomi besar ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa volatilitas berlebih pada yen tidak akan dibiarkan tanpa respons kebijakan, mengingat perannya sebagai salah satu mata uang cadangan utama dunia.


















































