Jelang Muktamar ke-35, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Konsesi Tambang hingga Isu Otokrasi PBNU

3 weeks ago 7
Jelang Muktamar ke-35, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Konsesi Tambang hingga Isu Otokrasi PBNU Ilustrasi(Antara)

FORUM Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar acara Halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8). Forum yang dihadiri ratusan kiai pengasuh pesantren dan tokoh NU ini digelar sehari menjelang pembukaan Muktamar ke-35 NU sebagai bentuk kritik serta masukan bagi para muktamirin.

Ketua FUN KH Mujib Qulyubi menjelaskan bahwa halaqah ini ditujukan sebagai ikhtiar moral dan refleksi atas dinamika internal organisasi yang kian meresahkan warga nahdliyin.

"Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH Burhanudin Umar mengundurkan diri karena tidak kuat melihat pertengkaran para elit kita. Mudah-mudahan sekecil apa pun ikhtiar kita, NU Kultural ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan," ujar Kiai Mujib dalam keterangannya, Rabu.

Pengasuh Ponpes Wali Salatiga, KH Anis Maftuhin, menyuarakan kritik tajam terhadap kepemimpinan PBNU periode berjalan yang dinilainya lemah secara manajerial dan tidak lagi mengedepankan kemaslahatan umat. Ia bahkan secara tegas meminta agar jajaran kepimpinan saat ini tidak dipilih kembali.

"Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan, jangan dipilih kembali. Ada tiga L dari PBNU hari ini: luntur keulamaannya, luntur tradisi tabayun, dan luntur ri'ayatul ummah," tegas Kiai Anis.

Ia juga menyoroti atmosfer muktamar yang dinilai sarat pengondisian dan intimidasi. Menurutnya, terdapat dinamika mengkhawatirkan seperti isu karantina peserta hingga aksi culik-menculik yang mencederai tradisi keilmuan dan demokrasi di tubuh NU.

Kritikan Tambang, Integritas, hingga Isu Zionis

Pengasuh Ponpes Algebra Bogor KH Khariri Makmun menyoroti rentetan kontroversi PBNU selama satu periode terakhir, mulai dari kasus korupsi mantan Bendum PBNU Mardani Maming, pembekuan badan otonom, hingga carut-marut penerbitan SK kepengurusan daerah menjelang muktamar. Kiai Khariri juga mengkritik kebijakan diplomasi luar negeri pihak elit PBNU yang dinilainya melenceng.

"Ada agenda besar merusak NU, yaitu kolaborasi dengan zionis melalui figur seperti Holland Taylor bahkan hingga bertemu Netanyahu. Gus Dur dulu bertemu Yitzhak Rabin yang masih moderat, sementara Netanyahu adalah garis keras yang tidak mungkin dilobi," ungkap Kiai Khariri.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran KH Mustain Syafi'i mengkritik kompromi politik elite NU terhadap pemberian konsesi tambang yang berisiko membungkam daya kritis organisasi terhadap persoalan korupsi dan kesejahteraan rakyat. Ia pun mengajak seluruh warga NU untuk melakukan istighfar massal demi keselamatan organisasi ke depan. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |