Penyaluran bantuan air bersih di Desa Tunggul Rejo, Kabupaten Grobogan Selasa (25/8) yang mengalami kekeringan. (MI/Akhmad Safuan)
PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah akan melakukan modifikasi cuaca untuk mengatasi dampak kekeringan yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga September mendatang, diharapkan langkah ini akan mengurangi kekeringan terutama di 14 daerah.
Pemantauan Media Indonesia Selasa (25/8) kekeringan terjadi di Jawa Tengah semakin meningkat dan meluas, bahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah mengeluarkan peringatan awas untuk 14 daerah yakni Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap dan Wonogiri.
"Ada 14 daerah berstatus awas dan 18 daerah di Jawa Tengah berstatus siaga akibat curah hujan yang rendah," kata Kepala BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto.
Daerah di Jawa Tengah berstatus siaga, lanjut Goeroeh Tjiptanto, yakni Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga dan Kota Magelang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan hingga saat ini tercatat 478 desa di 189 kecamatan di 30 kabupaten/kota di Jawa Tengah terdampak kekeringan, bahkan 25 kabupaten/kota diantaranya telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.
Mengatasi kondisi ini, ungkap Bergas Catursasi Penanggungan, bantuan air bersih didistribusikan mencapai 23,5 juta liter air bersih ke 30 daerah terdampak untuk 722 ribu jiwa berasal dari Tagana Dinas Sosial, PMI, Baznas masing-masing daerah dan pihak swasta masih terus disalurkan.
Modifikasi Cuaca
Sementara itu menghadapi bencana kekeringan yang berlangsung puluhan daerah ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan segera melakukan modifikasi cuaca, diharapkan langkah ini akan mengurangi kekeringan terutama di 14 daerah yang kini berstatus awas.
"Kita sedang menyiapkan sejumlah langkah menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan semakin meluas yakni dengan modifikasi cuaca," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen Selasa (25/8).
Modifikasi cuaca tersebut, menurut Taj Yasin Maimoen, merupakans salah satu upaya mengurangi dampak kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan dan diperkirakan akan berlangsung hingga September mendatang, bahkan informasi dari BMKG yang menyebutkan saat ini merupakan fase paling kering.
Peringatan kekeringan ini, demikian Taj Yasin Maimoen, menjadi momentum untuk memperbaiki pengelolaan air dalam jangka panjang, diantaranya dengan memastikan pembangunan tetap menyediakan ruang penyerapan air ke dalam tanah, karena banyak pembangunan permukiman yang menggunakan beton hingga mengurangi area resapan.
"Peringatan buat kita bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita yakni mememperhatikan pori-pori tanah agar tidak tertutup bangunan beton," tuturnya.
Selain itu dalam masa kekeringan ini, lanjut Taj Yasin Maimoen, BPBD Jawa Tengah juga telah menyiagakan armada truk tangki untuk mendistribusikan bantuan air bersih di daerah terdampak dan berkoordinas dengan pemerintah kabupaten/kota, terutama untuk memastikan ketersediaan air bersih. (AS)


















































