Peta Indonesia dan Australia.(dok. Wikipedia)
WAKIL Menteri Luar Negeri Australia Matt Thislethwaite menegaskan bahwa Indonesia-Australia Treaty on Common Security bukan aliansi militer seperti AUKUS, melainkan upaya kerja sama kedua negara dalam mengatasi ancaman yang dihadapi oleh salah satu negara.
“Tetapi hal itu juga tunduk pada proses domestik dari kedua pemerintah dan parlemen. Jadi, proses domestik seputar keterlibatan, seputar konflik, dan langkah-langkah lainnya akan tetap dipertahankan,” kata Thislethwaite di Jakarta, Selasa (14/7).
Dia menyampaikan hal tersebut dalam acara diskusi publik “The Jakarta Treaty: A New Chapter in the Australia-Indonesia Partnership” yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta.
Dia mengatakan konsultasi mengenai isu keamanan merupakan kewajiban bersama sekaligus mencerminkan pengakuan bahwa kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keamanan kolektif di kawasan.
Thislethwaite juga menekankan bahwa kedaulatan Australia dan Indonesia tetap dipertahankan meski ada tingkat kerja sama baru antara militer kedua negara. Meski hubungan Indonesia-Australia selama ini naik-turun, Thislethwaite memandang perjanjian baru itu berbeda karena kedua negara kini menyadari kepentingan bersama sebagai kekuatan menengah di tengah persaingan geostrategis kawasan, sehingga kerja sama pertahanan didorong ke level tertinggi yang pernah ada.
Dia juga menjelaskan bahwa perjanjian tersebut, yang juga dikenal sebagai “Jakarta Treaty 2026”, memungkinkan perwira militer Indonesia untuk bertugas di Brigade ke-1 Angkatan Pertahanan Australia.
Dia mengatakan bahwa Jakarta Treaty 2026 memperluas peluang pendidikan dan pelatihan bersama bagi personel muda kedua negara guna membangun hubungan profesional jangka panjang.
Menurut Wamenlu Australia itu, fokus pada personel muda dinilai penting agar mereka membangun jejaring sejak awal karier, sehingga dapat menjaga komunikasi terbuka saat menghadapi tantangan di masa depan.
Lebih lanjut Thislethwaite menyebutkan bahwa kerja sama itu berpotensi meluas ke tingkat ASEAN, mengingat Australia kini menjadi mitra dialog ASEAN Plus. “Kami percaya hal ini dapat ditingkatkan ke lingkup ASEAN yang lebih luas dan kami sangat bangga bahwa Australia telah diundang sebagai anggota ASEAN Plus untuk berpartisipasi dalam dialog dan menjadi mitra strategis penting bagi negara-negara ASEAN,” ujar Thislethwaite.
Dia mengatakan strategi baru disiapkan untuk memperdalam kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara ASEAN, seiring dengan meningkatnya kesadaran di ASEAN dan forum multilateral mengenai ancaman perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, terutama di kawasan.
Pada 6 Februari, Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menandatangani Indonesia-Australia Treaty on Common Security di Jakarta.
Prabowo memandang perjanjian keamanan bersama itu mencerminkan tekad kedua negara untuk terus bekerja sama secara erat dalam menjaga keamanan nasional masing-masing, serta berkontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, perjanjian itu mencerminkan komitmen teguh terhadap prinsip bertetangga baik dan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif, kata Presiden Prabowo. (Ant/P-3)

















































