Israel Gunakan Milisi dan Geng Kriminal untuk Kejahatan Perang di Gaza

3 weeks ago 6
Israel Gunakan Milisi dan Geng Kriminal untuk Kejahatan Perang di Gaza Warga Gaza.(Al Jazeera)

KEKHAWATIRAN global meningkat setelah laporan surat kabar harian Israel, Haaretz, mengungkapkan bahwa Israel kemungkinan sedang menciptakan kondisi yang memicu kekejaman lokal di Jalur Gaza, Palestina, yang mengingatkan pada tragedi pembantaian Sabra dan Shatila tahun 1982.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (26/8), Haaretz memperingatkan bahwa tentara Israel memperluas penggunaan tentara bayaran, geng kriminal, dan pengedar narkoba untuk melakukan kejahatan perang atas nama Israel di Jalur Gaza. Investigasi ini didasarkan pada kesaksian tentara Israel, laporan PBB, dan citra satelit.

Operasi Milisi Kolaborator

Laporan tersebut menemukan ada milisi kolaborator yang dipersenjatai dengan baik untuk mengusir warga Palestina dari rumah mereka dan melakukan operasi di seluruh Gaza. Israel dilaporkan telah melatih setidaknya lima kelompok milisi, dengan potensi kelompok keenam, yang beroperasi dari pangkalan-pangkalan yang dibentengi di dalam area pendudukan Israel di daerah kantong tersebut.

Seorang tentara Israel menggambarkan bagaimana negara, tentara, dan dinas intelijen Shin Bet mengirim milisi terlatih untuk melakukan kejahatan perang. "Saya adalah orang yang harus melindungi mereka selama operasi mereka agar mereka tidak terluka," ujar tentara tersebut.

Hubungan antara geng-geng ini dan militer Israel menjadi semakin erat. Para pejuang milisi dilaporkan bebas berkeliaran di sekitar pos-pos tentara Israel. Israel memasok senjata, serta memberikan dukungan artileri dan drone selama operasi mereka.

"Mereka memasuki setiap bangunan, menjarah apa pun yang bisa mereka ambil, keluar dengan tumpukan barang, lalu membakar rumah tersebut," kata seorang tentara Israel yang tidak disebutkan namanya.

Kaitan dengan Kelompok Ekstremis

Investigasi tersebut juga mengungkap bahwa setidaknya satu milisi yang didukung Israel memiliki kaitan dengan kelompok ISIS. Pemimpinnya, Yasser Abu Shabab, tewas di tangan Hamas pada Desember 2025. Meskipun Abu Shabab telah tewas dan dianggap pengkhianat oleh keluarganya sendiri, proyek milisi yang ia simbolkan terus berkembang, terutama sejak pengumuman gencatan senjata Oktober 2025.

Pemimpin milisi lainnya, Shawqi Abu Nasira, secara terbuka mengakui kolaborasinya dengan Israel dalam sebuah video daring, dengan dalih ingin membebaskan tanah dari Hamas.

Tujuan Pembersihan Etnis

Penggunaan tentara bayaran ini diduga memiliki tujuan strategis untuk membuat kehidupan di Gaza tidak tertahankan. Hal ini sejalan dengan seruan berulang dari menteri-menteri Israel untuk melakukan pembersihan etnis di Gaza dan mengganti populasi Palestina dengan pemukim Yahudi.

Di wilayah Shujaiya, pasukan Israel bahkan meratakan pemakaman besar Palestina dan menggantinya dengan lapangan pelatihan luas di dekat pangkalan milisi. Strategi ini dianggap sebagai upaya untuk melakukan outsourcing bagian dari strategi pembersihan etnis agar tidak langsung melibatkan tentara reguler.

Saat ini, Israel sedang menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Selain itu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pihak Hamas menyatakan kepada Haaretz bahwa mereka tidak akan menyerahkan "senjata pertahanan" mereka selama milisi-milisi yang didukung Israel tersebut tetap dipersenjatai, karena kelompok-kelompok tersebut dianggap akan menargetkan mereka. (Middle East Eye/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |