The Hubble Space Telescope image shows the globular cluster stellar stream.(Hubble Space Telescope and Holm et al.)
SEBUAH tatapan tidak sengaja pada arsip foto lama milik Teleskop Luar Angkasa Hubble berujung pada penemuan astronomi yang sangat berharga. Penemuan ini berpotensi besar membantu para ilmuwan membedah salah satu misteri terbesar di alam semesta, materi gelap (dark matter).
Foto yang diambil satu tahun sebelumnya oleh Hubble tersebut menampilkan UGC 9050-Dw1, sebuah galaksi kerdil yang berjarak sekitar 115 juta tahun cahaya dari Bumi. Galaksi ini tampak sebagai titik cahaya biru-putih yang samar dan buram, atau yang biasa dikategorikan astronom sebagai galaksi ultra-difus (ultra-diffuse galaxy).
Galaksi jenis ini memiliki populasi bintang yang sangat sedikit, sehingga sebagian besar massanya diyakini terdiri atas materi gelap, zat tak kasatmata yang menyusun lebih dari 80% materi di alam semesta.
Ketertarikan bermula ketika mantan astronom, Hendel, yang pernah mempelajari ribuan struktur serupa, mengenali interaksi halus pada fitur busur cahaya di foto tersebut. Ia melihat adanya kesamaan warna pada bintang-bintang serta lintasan melengkung yang mengarah ke sebuah gumpalan terang kecil di sepanjang jalurnya.
Petunjuk-petunjuk itu cocok dengan karakteristik aliran bintang (stellar stream). Aliran yang diberi nama "Oyashio" ini merupakan sisa-sisa gugus bintang padat (globular cluster) yang terkopoyak dan tertarik oleh gaya gravitasi UGC 9050-Dw1.
Penemuan aliran Oyashio memberi para peneliti wadah laboratorium baru yang masih sangat alami untuk menguji dan menyelidiki karakteristik materi gelap. Objek ini dinilai jauh lebih murni karena minim gangguan dari gaya astrofisika lain yang kerap mengacaukan pencarian serupa di galaksi Bima Sakti.
Emily Cunningham, asisten profesor di Boston University yang mempelajari aliran bintang dan halo materi gelap namun tidak terlibat dalam penelitian ini, menyambut baik penemuan tersebut.
"Penemuan Oyashio adalah 'langkah maju yang sangat mengagumkan'. Menggunakan teknik yang dijelaskan dalam makalah ini, kita akan mendeteksi lebih banyak lagi aliran di sekitar galaksi lain melalui observasi mendatang dari fasilitas seperti Observatorium Vera Rubin dan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman," ujar Emily Cunningham kepada Space.com.
Studi lanjutan pada 2023 menggunakan gambar Hubble yang sama mencatat adanya populasi gugus bintang yang sangat tinggi di dekat galaksi tersebut. Para penulis menyimpulkan bahwa UGC 9050-Dw1 kemungkinan terbentuk dari penggabungan dua galaksi berukuran serupa sekitar 10 miliar tahun lalu. Penggabungan ini berlangsung cukup tenang sehingga gas dari kedua galaksi bertahan dan memicu lonjakan pembentukan bintang baru.
Tim peneliti juga menguji berbagai penjelasan alternatif untuk memastikan keabsahan temuan ini, mulai dari kemungkinan kemunculan bintang yang tak sengaja sejajar, efek lensa gravitasi, hingga daerah berdebu yang menyerupai bentuk aliran bintang. Namun, tidak ada skenario alternatif yang dapat menjelaskan semua bukti secara menyeluruh.
Holm, salah satu ilmuwan yang terlibat, menjelaskan proses verifikasi tersebut.
"Itu adalah proses yang menarik karena tidak ada satu momen di mana kami langsung berkata, 'Oke, sekarang kita tahu apa ini.' Kami memulai dengan asumsi bahwa dari tampilannya, ini tampak seperti sesuatu. Berapa banyak cara berbeda yang bisa kami coba untuk membuktikan bahwa ini bukan aliran bintang?" kata Holm kepada Space.com.
Meski demikian, demi menjaga kedisiplinan ilmiah, tim mengakui bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya menyampingkan setiap kemungkinan lain.
"Masih ada kemungkinan bahwa beberapa bintang secara kebetulan jatuh dalam pola ini. Tapi sekali lagi... agar semua hal ini sejajar dengan sangat rapi akan membutuhkan terlalu banyak kebetulan," tambah Holm. (Space/Z-2)


















































