Ilustrasi.(Magnific)
IRAN secara resmi menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) melalui mediator Irak pada Kamis (23/7). Penolakan ini terjadi di tengah gelombang serangan udara AS yang memasuki malam ke-13 berturut-turut terhadap sasaran-sasaran di Republik Islam tersebut.
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, melakukan perjalanan ke Teheran untuk menyampaikan proposal tersebut, yang dirumuskan tak lama setelah pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih awal bulan ini. Kantor Al-Zaidi menyatakan kunjungan tersebut bertujuan menyerukan perdamaian dan dialog serta menjamin bahwa wilayah Irak tidak akan digunakan untuk menyerang Iran.
Namun, pejabat Iran menegaskan kepada The New York Times bahwa mereka tidak tertarik pada kesepakatan sementara yang tidak menyentuh status akhir Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi titik utama sengketa dalam negosiasi.
Ancaman Serangan ke Tel Aviv
Seiring meningkatnya ketegangan, pejabat Iran memperingatkan bahwa tahap eskalasi berikutnya akan mencakup serangan langsung ke Tel Aviv. Jika Trump merealisasikan ancamannya untuk menghantam infrastruktur di Teheran, Iran berjanji akan membalas terhadap Israel dan memerintahkan kelompok Houthi di Yaman untuk memberlakukan blokade maritim di selat Bab al-Mandab.
Meskipun Israel terlibat dalam tahap awal perang yang dimulai pada 28 Februari lalu, negara tersebut cenderung menahan diri dalam gelombang pertempuran terbaru ini. Namun, ancaman Iran menandakan potensi perluasan konflik yang dapat menyeret kembali militer Israel ke dalam konfrontasi langsung.
Trump Incar Aset Iran untuk Ganti Rugi
Di Washington, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa AS akan menggunakan dana Iran yang berada di bawah kendali Washington untuk membayar setiap dan semua kerusakan yang dialami kapal dan kargo akibat serangan di sekitar Teluk.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons tajam kebijakan tersebut. "Menyita aset negara lain untuk membayar klaim masa depan yang tidak terkait adalah preseden yang menghasut," tulis Araghchi. Ia memperingatkan bahwa normalisasi penyitaan aset akan menciptakan kekacauan global yang tidak akan berakhir damai.
Serangan Udara dan Balasan Drone
Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan bahwa serangan malam ke-13 menargetkan pusat komando militer Iran, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, dan situs pengawasan pesisir. Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di kota Ahvaz, Omidiyeh, Bandar Abbas, hingga Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
Beberapa jam setelah serangan AS, eskalasi meluas ke negara tetangga:
- Bahrain: Pangkalan Udara Isa milik AS menjadi sasaran drone kamikaze Arash yang diklaim oleh tentara Iran.
- Yordania: Iran mengeklaim serangan drone terhadap pangkalan Al-Azraq, meski otoritas Yordania belum melaporkan ada dampak serangan.
- Irak: Ledakan terdengar di dekat bandara Erbil yang menampung pasukan koalisi pimpinan AS di wilayah otonomi Kurdistan.
Araghchi menegaskan bahwa Iran akan meminta pertanggungjawaban negara mana pun yang membantu AS dalam serangan terhadap wilayahnya. "Setiap partisipasi atau bantuan dalam melakukan agresi terhadap Iran akan menciptakan tanggung jawab internasional bagi pihak-pihak terkait," tegasnya dalam pertemuan di Kirgistan pada Jumat (24/7).
Konteks Konflik: Kampanye militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari 2026 dengan tujuan mendegradasi kemampuan militer dan program nuklir Teheran. Meski sempat ada nota kesepahaman gencatan senjata, pertempuran kembali pecah dalam beberapa pekan terakhir akibat perebutan kendali atas Selat Hormuz. (The Times of Israel/I-2)

















































