Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference 2026(MI/Naufal Zhuri)
INDONESIA tengah memperkuat kapasitas dan instrumen penangggulangan bencana dengan harapan dapat menjadi center of excellence atau pusat keunggulan bidang kebencanaan. Itu dilakukan penguatan sains, teknologi, inovasi, dan industrialisasi kebencanaan. Pengembangan industri dinilai penting untuk membangun kemandirian nasional sekaligus memperkuat ketangguhan menghadapi berbagai risiko bencana.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati mengatakan kebutuhan penanggulangan bencana memerlukan solusi yang mencangkup pengelolaan risiko bencana, pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan.
“Mulai dari science technology yang kita miliki kemudian diteruskan menjadi suatu bentuk industri yang jelas-jelas bisa bermanfaat sebelum, saat, dan pascabencana,” ucap Raditya dalam rangkaian Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference (ADEXCO) 2026 di Jakarta, Rabu (9/9).

Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati /MI/Naufal
Menurut dia, Indonesia perlu mulai membangun kemandirian dalam memenuhi kebutuhan penanggulangan bencana sehingga tidak bergantung pada teknologi maupun produk dari luar negeri.
Ia menyebut teknologi yang dapat dikembangkan secara mandiri yakni sistem peringatan dini yang mudah digunakan, makanan siap santap, tenda, selimut, lampu penerangan, hingga perangkat penyediaan air bersih.
“Jangan menunggu kejadian bencana baru kita mencari solusi. Harus kita mulai sekarang,” tegasnya.
Industrialisasi Kebencanaan
Raditya mengatakan ADEXCO menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, pengembang teknologi, akademisi, dan pengguna. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga membuka peluang business matching antara pengembang teknologi dengan industri maupun pengguna.
Menurutnya, pengembangan industri kebencanaan membutuhkan proses panjang dan konsisten. Salah satu hasil yang telah terlihat ialah adanya peserta pameran yang kemudian melakukan investasi dan membuka pabrik di Batam untuk memproduksi teknologi filtrasi air.
"Ini (ADEXCO)menimbulkan investasi baru. Harapannya ini bisa bergulir terus,” ujarnya.
Raditya menilai momentum tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi dan industrialisasi yang tengah didorong pemerintah. Menurut dia, kebutuhan penanggulangan bencana dapat menjadi salah satu ruang pengembangan industri strategis nasional.
Tidak hanya produk berteknologi tinggi, industri kebencanaan juga dapat dikembangkan melalui produk sederhana yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat.
“Siapa yang memikirkan itu kalau tidak mulai dari sekarang kita mampu melakukan kemandirian dalam hal industrialisasi kebencanaan ini,” katanya.
Penguatan industri kebencanaan juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan paradigma dalam pengelolaan risiko bencana. Raditya mengatakan perhatian perlu lebih banyak diarahkan pada pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan, bukan hanya pada respons setelah bencana terjadi.
Ia menjelaskan bahwa fenomena alam merupakan bahaya (hazard), sedangkan bencana terjadi ketika bahaya tersebut menimbulkan dampak terhadap manusia, kehidupan dan penghidupan, lingkungan, maupun aset.
Karena itu, keberadaan bahaya tidak selalu berarti telah terjadi bencana. Risiko dapat dikurangi melalui penguatan kapasitas dan pengurangan kerentanan masyarakat serta lingkungan.
“Fenomena alam itu ya fenomena alam saja. Kalau tidak ada korban jiwa, warga terdampak, kerugian sosial ekonomi atau kerusakan infrastruktur, ya fenomena alam saja, jangan disebut bencana,” jelas Raditya.
Ia mencontohkan perubahan fungsi lahan yang dapat meningkatkan risiko banjir. Saluran irigasi yang semula dirancang untuk mengairi sawah dapat kehilangan fungsi ketika kawasan pertanian berubah menjadi permukiman.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat risiko bencana juga dipengaruhi oleh aktivitas dan keputusan manusia, termasuk tata ruang serta pengelolaan lingkungan.
Karena itu, kajian risiko bencana perlu menjadi salah satu dasar dalam perencanaan pembangunan dan penataan ruang, termasuk dalam penyusunan program pemerintah daerah.
Raditya menekankan agar peta risiko tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah pengurangan risiko, seperti penguatan infrastruktur, pengelolaan vegetasi, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Kalau mau bicara Indonesia Emas 2045, Indonesia harus menjadi Indonesia national resilience. Tapi untuk menjadi Indonesia national resilience harus berawal dari local resilience,” tuturnya.
Menurut Raditya, penguatan ketangguhan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan perlu membangun jejaring yang dapat bekerja bersama dalam seluruh tahapan pengelolaan risiko bencana.
Ia mencontohkan kebutuhan alat berat ketika bencana menyebabkan akses jalan tertutup longsor. Pemerintah tidak harus memiliki seluruh peralatan tersebut, tetapi perlu membangun mekanisme dan jejaring dengan sektor swasta agar sumber daya yang tersedia dapat dimobilisasi ketika dibutuhkan.
“Ini contoh yang konkret bahwa kita tidak bisa sendiri-sendiri lagi,” ujarnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, membutuhkan whole government approach sekaligus whole society approach sehingga kapasitas penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama.
Center of Excellence
Direktur Operasional ADEXCO Andrian Cader mengatakan gagasan menjadikan Indonesia sebagai pusat keunggulan bidang kebencanaan telah dibangun sejak inisiasi ADEXCO pada 2019.
Menurut dia, Indonesia memiliki dua kondisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar, tetapi di sisi lain menghadapi kompleksitas bahaya dan risiko bencana yang tinggi.
Kondisi tersebut, kata Andrian, seharusnya dapat menjadi modal untuk mengembangkan teknologi, inovasi, pengetahuan, dan industri kebencanaan di dalam negeri.
“Pertama, kita ingin mengubah paradigma dunia dari Indonesia sebagai supermarket bencana menjadi laboratorium bencana dengan mengedepankan industrialisasi kebencanaan dan harapannya ke depan menjadi center of excellence,” kata Andrian.

Direktur Operasional ADEXCO Andrian Cader (MI/Naufal)
Ia mengatakan penerapan teknologi dan inovasi dapat berperan dalam mengurangi risiko bencana. Sistem peringatan dini, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), drone, sensor, serta teknologi lainnya memiliki peluang besar untuk memperkuat pemantauan bahaya, analisis risiko, penyampaian peringatan, hingga pengambilan keputusan.
Menurut Andrian, Indonesia memiliki modal penting karena berbagai pengalaman menghadapi bahaya dan risiko bencana dapat menjadi ruang pembelajaran untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri.
“Kita punya ahli-ahlinya, ekspertis di Indonesia. Masa barangnya harus impor terus?” ujarnya.
Namun, dia mengakui pengembangan teknologi mutakhir masih membutuhkan kerja sama, transfer pengetahuan, dan penguatan kapasitas. Karena itu, kolaborasi dengan pihak internasional tetap diperlukan sembari memperkuat kemampuan industri nasional.
Investasi dan Inovasi
Andrian mengatakan ADEXCO juga diarahkan untuk mempertemukan inovator, investor, industri, pemerintah, dan akademisi.
Salah satu wadah yang disediakan ialah Respond and Resilience Hub yang mempertemukan perguruan tinggi dengan perusahaan dan investor untuk mendorong pengembangan inovasi kebencanaan menjadi produk yang dapat diterapkan.
Sejumlah kolaborasi, kata dia, telah menghasilkan perkembangan konkret. Pada ADEXCO 2022, perusahaan Indonesia yang bekerja sama dengan perusahaan Jepang memperoleh proyek dari luar negeri. Pada penyelenggaraan berikutnya, terdapat perusahaan asing yang kemudian berinvestasi dan membuka pabrik di Batam.
Pada ADEXCO 2025, inovasi sistem peringatan dini dari Universitas Indonesia juga mendapatkan investasi dari perusahaan besar.
“Harapannya menaikkan, pertama, kita punya alternatif industri baru,” ujarnya. (H-4)








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)









