Pengunjung sedang memantau IHSG di Bursa Efek Indonesia Jakarta(Antara Foto)
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pagi bergerak di zona merah. Pelemahan ini sejalan dengan tren negatif di bursa kawasan Asia dan global yang tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya tensi geopolitik.
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.55 WIB, IHSG melemah 7,40 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.670,80. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,52 poin atau 0,08 persen ke level 663,73.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memproyeksikan IHSG akan bergerak secara sideways dalam rentang 6.600 hingga 6.700 sepanjang perdagangan hari ini.
Sentimen Global: Minyak dan Geopolitik
Tekanan utama pada pasar modal global dipicu oleh memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Aktivitas militer di Selat Hormuz, termasuk laporan penghancuran kapal pengangkut minyak, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 3 persen dan ditutup di atas level 101 dolar AS per barel pada Rabu (9/9). Selain itu, imbal hasil (yield) US-Treasury tenor 10 tahun menguat ke level 4,845 persen, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.
| Nikkei (Jepang) | -0,82% | 64.618,00 |
| Hang Seng (Hong Kong) | -1,39% | 24.924,00 |
| Kospi (Korea Selatan) | -1,01% | 6.980,46 |
| S&P 500 (AS) | -0,48% | 7.636,36 |
Kondisi Ekonomi Domestik
Di tengah tekanan eksternal, data ekonomi domestik menunjukkan performa yang cukup solid. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Agustus 2026 meningkat ke level 118,5 dari sebelumnya 116,8 pada Juli 2026. Kenaikan ini didorong oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini (IKE) yang naik ke 109,4 dan ekspektasi masa depan (IEK) di level 127,6.
Namun, pasar tetap waspada terhadap data penjualan ritel Juli yang diperkirakan terkontraksi 3,3 persen (yoy). Selain itu, pelaku pasar global tengah menanti keputusan European Central Bank (ECB) yang diprediksi akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Kamis ini untuk meredam inflasi energi. (Ant/H-4)








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)









