Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Lonjakan Harga BBM Baru Dimulai

8 hours ago 2
Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Lonjakan Harga BBM Baru Dimulai Ilustrasi.(Magnific)

PENGEMUDI di Amerika Serikat mulai merasakan dampak langsung dari eskalasi konflik Iran yang menghebat dalam beberapa hari terakhir. Gangguan pasokan ini mendorong harga minyak mentah melampaui US$100 per barel dan menyebabkan harga bensin nasional di AS melonjak di atas US$4 per galon.

Namun, para analis energi dan eksekutif industri memperingatkan bahwa harga tersebut berpotensi naik jauh lebih tinggi. Pasar minyak kini dipaksa untuk mengakui dislokasi besar yang menimpa infrastruktur energi global akibat konflik, dengan prospek pemulihan cepat yang dinilai sangat tipis.

Bob McNally, pendiri firma riset Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat energi era pemerintahan George W. Bush, menyebut situasi ini sebagai salah satu kasus salah harga (mispricing) pasar energi terbesar di zaman modern. "Beberapa harga yang kita lihat selama konflik ini tidak sejalan dengan fundamental. Saya rasa Juli akan menjadi bulan saat kita kembali ke realitas. Kekerasan terbaru ini benar-benar bisa mengirim harga minyak jauh lebih tinggi," ujarnya.

Eskalasi Militer dan Blokade Jalur Logistik

Ketegangan meningkat setelah upaya diplomatik untuk memperpanjang gencatan senjata April lalu gagal. Amerika Serikat dan Iran meningkatkan serangan militer dalam beberapa pekan terakhir. Teheran dilaporkan menyerang fasilitas militer AS serta infrastruktur energi di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kondisi semakin diperparah pekan ini setelah militan Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, memberlakukan blokade terhadap pengiriman menuju Arab Saudi di Laut Merah. Langkah ini semakin mencekik ekspor minyak dan gas global.

Pertempuran yang berlangsung selama lima bulan ini menyebabkan:

  • Persediaan minyak global terkuras habis.
  • Kilang dan infrastruktur energi di Timur Tengah mengalami kerusakan serius.
  • Penutupan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang krusial.

Penyangga Energi Mulai Menipis

Meskipun prediksi awal perang yang menyebut harga bensin akan menembus US$5 per galon atau Brent mencapai US$200 belum terjadi, para ahli menilai situasi kini berada di titik kritis. Ben Cahill, pakar energi dari University of Texas di Austin, menyatakan bahwa penyangga utama yang membantu dunia melewati bulan-bulan pertama guncangan pasokan kini telah terkikis.

"Akan lebih sulit untuk menghindari koreksi harga dan reaksi harga yang tajam ketika gangguan baru terjadi setiap hari. Hal ini sudah memberikan dampak yang lebih besar pada psikologi pasar sekarang," jelas Cahill.

Pada awal konflik di akhir Februari, dampak harga sempat teredam karena inventaris global masih sehat dan permintaan bahan bakar transportasi sedang rendah. Saat itu, Tiongkok membantu menekan pasar global dengan menggunakan cadangan luas mereka, sementara AS melepaskan ratusan juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR).

Namun saat ini, stok tersebut sangat menipis dan perlu diisi ulang. Di sisi lain, permintaan dari Tiongkok kembali meningkat, bersamaan dengan musim berkendara musim panas di AS dan Eropa yang mendorong konsumsi naik.

Dampak Global dan Krisis Diesel

Selain konflik di Timur Tengah, serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang di Rusia juga melumpuhkan pasokan diesel dunia. Di AS, harga diesel rata-rata mencapai US$5,20 menurut data AAA. Laporan dari Komite Ekonomi Gabungan Kongres menunjukkan petani menghabiskan US$1,4 miliar lebih banyak untuk bahan bakar diesel selama musim tanam tahun ini dibandingkan tahun 2025.

Shon Hiatt dari USC Marshall School of Business mencatat bahwa pasar sebelumnya berasumsi tekanan politik akan mengakhiri konflik dengan cepat. Namun, ketidakpastian kapan perang akan berakhir membuat tantangan menyeimbangkan pasar semakin berat setiap hari.

Firma riset Capital Economics memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berisiko mendorong pasar minyak ke titik kritis dalam beberapa bulan mendatang, dengan potensi lonjakan harga hingga 20 persen atau lebih. Laporan mereka menegaskan satu realitas pahit, "Tiongkok tidak bisa menyelamatkan pasar minyak global selamanya." (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |