Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).(MI/M Yakub)
SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan melakukan intervensi atau cawe-cawe dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Agustus mendatang. Gus Ipul menjamin Istana memberikan kepercayaan penuh kepada warga nahdliyin untuk bermusyawarah secara mandiri.
Pernyataan ini memperkuat penegasan yang sebelumnya disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), terkait independensi PBNU dalam menggelar forum tertinggi tersebut.
"Oh, saya kira iya itu, pasti. Presiden tahu betul Nahdlatul Ulama, memahami betul Nahdlatul Ulama, dan presiden kenal dengan semua tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama," ujar Gus Ipul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (15/7).
Menurut Gus Ipul, Presiden Prabowo sangat menghormati nilai-nilai serta independensi organisasi. Presiden Prabowo diyakini bakal membiarkan seluruh pemilik suara atau muktamirin menentukan arah masa depan NU sesuai ketentuan organisasi.
"Tentu presiden memberikan kepercayaan kepada muktamirin untuk melakukan musyawarah, untuk melakukan suatu proses sebagaimana yang ada di dalam tradisi Nahdlatul Ulama," imbuh mantan Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut.
Ia menambahkan, ketidakterlibatan kekuasaan dalam proses pemilihan dinilai penting guna menjaga marwah dan kekhasan kultur pesantren yang menjadi pondasi dasar setiap gelaran muktamar.
"Jadi saya kira benar bahwa presiden tidak akan turut campur dalam kaitan dengan proses muktamar itu," pungkas Gus Ipul.
Sebagai informasi, PBNU akan menggelar Muktamar ke-35 NU yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Salah satu agenda krusial dalam muktamar ini adalah pemilihan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat berikutnya. (E-4)

















































