Frustrasi Perang Iran, Donald Trump Masuk ke Mode Balas Dendam

8 hours ago 3
Frustrasi Perang Iran, Donald Trump Masuk ke Mode Balas Dendam Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mulai kehilangan kesabaran terhadap konflik dengan Iran yang memasuki bulan kelima. Dalam pertemuan di Oval Office baru-baru ini, Trump meluapkan kemarahannya terhadap para pemimpin Iran dengan sebutan kasar dan makian, menggambarkan rasa frustrasinya atas perang yang tak kunjung usai.

Awalnya, Trump meyakini konflik ini akan selesai dalam hitungan minggu. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Para pejabat administrasi mengungkapkan bahwa sang presiden kini meragukan jalur negosiasi dan merasa bahwa hanya kekuatan militer yang dipahami oleh Teheran. Seorang pejabat senior menyebut Trump saat ini berada dalam mode balas dendam.

Dampak Politik dan Ekonomi di Dalam Negeri

Kekecewaan Trump bukan tanpa alasan. Perang ini memicu kenaikan harga-harga, penurunan tingkat persetujuan publik (approval rating), dan gugurnya lebih dari selusin tentara AS. Para penasihat Gedung Putih khawatir konflik ini akan menggerus peluang Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) mendatang.

Upaya deeskalasi sebelumnya, termasuk pengumuman gencatan senjata pada April dan nota kesepahaman (MoU) pembukaan Selat Hormuz pada Juni, terbukti gagal. Ketegangan kembali memuncak setelah militan Houthi menyerang dua tanker Arab Saudi di Laut Merah pada Rabu 22/7) yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Trump merespons dengan ancaman hukuman militer besar jika serangan terus berlanjut.

Ketegangan dengan Sekutu dan Ancaman Keamanan

Konflik itu juga merenggangkan hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump dilaporkan enggan berkomunikasi dengan Netanyahu, meskipun Israel terus berupaya mengatur pertemuan antarkedua pemimpin. Di sisi lain, tokoh konservatif seperti Steve Bannon mulai melontarkan kritik tajam terhadap keterlibatan AS dalam konflik ini.

Selain beban politik, perang ini memberikan tekanan personal. Badan intelijen memperingatkan ada plot Iran untuk membunuh Trump dan penasihat seniornya. Hal ini memaksa Trump mengganti pesawat saat berada di Turki awal bulan ini setelah menerima informasi intelijen mengenai ancaman keamanan yang serius.

Catatan Keamanan: Trump dilaporkan sangat marah ketika berita mengenai pergantian pesawatnya bocor ke media, menganggap kebocoran tersebut sebagai ancaman keamanan nasional.

Kembali ke Opsi Militer

Meskipun penasihat seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff masih meyakini ada peluang kesepakatan diplomatik, Trump tampaknya mulai beralih ke strategi yang lebih keras. AS kini tengah meningkatkan pengiriman pasukan, tenaga medis, dan persenjataan ke Timur Tengah untuk memperkuat opsi militer.

Anggota senior Komite Urusan Luar Negeri DPR, Michael McCaul, menilai bahwa Trump merasa sudah memberikan kesempatan bagi perdamaian namun dikhianati. "Dia kembali ke Rencana A, yaitu operasi militer," ujar McCaul.

Di tengah situasi yang memanas, Gedung Putih mencoba mengalihkan fokus publik ke isu ekonomi domestik. Trump baru-baru ini mengunjungi Georgia untuk mempromosikan inisiatif penurunan biaya hidup, sembari terus menekan perusahaan minyak agar menurunkan harga bahan bakar guna meredam dampak ekonomi perang sebelum pemilu paruh waktu tiba. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |