DPR RI Dorong Pemberian Insentif untuk Nakes yang Bertugas di NTT

4 weeks ago 9
DPR RI Dorong Pemberian Insentif untuk Nakes yang Bertugas di NTT Sejumlah petugas melayani warga untuk pendataan administrasi keluarganya yang menjadi pasien di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026).(Antara)

KOMISI IX mendorong adanya insentif bagi seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bertugas di lokasi bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, insentif tersebut bukan sekadar persoalan finansial, tetapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi tenaga kesehatan yang tetap bekerja dalam situasi sulit.

Bantuan tenaga kesehatan di lokasi bencana dinilai tidak boleh hanya berfokus pada dokter spesialis. Kebutuhan terhadap tenaga perawat juga harus menjadi perhatian.

“Bantuan tenaga medis jangan hanya untuk dokter spesialis, tetapi juga perawat. Bisa mengambil dari Poltekkes yang ada agar perawat di tempat bencana memiliki waktu untuk beristirahat dan tidak mengalami burnout,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Nihayatul Wafiroh, Selasa (25/8).

Menurutnya, kebutuhan tambahan tenaga perawat menjadi semakin penting karena sebagian tenaga kesehatan yang bertugas di RS Ruteng juga merupakan korban gempa. 

Komisi IX, lanjut Ninik sapaan akrabnya juga meminta pemerintah daerah segera melakukan pendataan terhadap rumah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang mengalami kerusakan akibat gempa.

“Pemerintah daerah harus segera mendata rumah tenaga kesehatan dan tenaga medis yang rusak karena bencana agar bisa segera mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah pusat,” tegas Ninik.

Selanjutnya, Ninik bersama rombongan Komisi IX DPR RI juga meninjau langsung kondisi kerusakan fasilitas kesehatan lainnya yang cukup masif di Pulau Flores. Salah satunya adalah Puskesma Bangka Kenda, Manggarai. Puskesmas tersebut adalah satu dari 68 unit yang mengalami kerusakan dan 19 di antaranya dilaporkan belum dapat melayani masyarakat.

"Di Puskesmas Bangka Kenda ini juga parah banget, efek gempa membuatnya tidak lagi bisa dipakai, lantai goyang, tembok runtuh, bahkan kami tidak bisa masuk. Lokasinya di atas gunung. Dan kami sudah meminta Kemenkes untuk tidak merenovasi, tapi merelokasi ke tempat aman," pungkasnya. (E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |