Ilustrasi(Dok Istimewa)
SEORANG siswa kelas sembilan SMP Negeri 6 Kota Pekalongan, Jawa Tengah, berinisial F, masih menjalani perawatan di RSUD Bendan Kota Pekalongan, setelah mengalami pengeroyokan sejumlah teman sekolahnya. Peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat sekolah, di area kamar mandi yang berada di bagian belakang sekolah, pada Kamis (13/8)
Pihak sekolah menyebut, kejadian bermula dari persoalan pergaulan dan komunikasi antarsiswa melalui media sosial. F sebelumnya disebut memiliki teman dekat lawan jenis. Persoalan hubungan pertemanan itu kemudian berkembang menjadi ketegangan setelah muncul komunikasi melalui WhatsApp.
Kepala Sekolah lama Qurratiani (Anik) yang menjadi juru bicara mendampingi Kepala Sekolah Baru SMP 6 Pekalongan--yang baru sertijab-'membenarkan kejadian tersebut dan sejauh ini sudah dalam proses penanganan mulai dari pihak sekolah maupun kepolisian.
"Karena ada persinggungan fisik yang pada akhirnya mungkin saling tidak terima, maka terjadi kontak fisik yang berakhir dengan dirujuk ke rumah sakit," ujar Anik, melalui keterangan resmi, dikutip Sabtu (15/8).
Anik menuturkan pihak ada tiga siswa dalam pertemuan tersebut. Namun, berdasarkan keterangan awal, dua siswa melakukan kontak fisik dengan F.
Dokter Spesialis Bedah Saraf RSUD Bendan, Bair Ginting, menyampaikan saat pertama kali tiba di rumah sakit, F dilaporkan dalam kondisi koma. Namun, setelah mendapat penanganan medis, kondisi kesadaran F berangsur membaik.
"Saat masuk, dilaporkan kondisinya itu koma. Kemudian dalam berjalannya setelah setelah diberikan obat-obatan, lalu diberikan oksigen, kondisinya perlahan membaik sehingga laporan terakhir dilaporkan sudah mulai sadar kembali," terang Bair Ginting.
Menurut Bair Ginting hasil CT scan kepala juga menunjukkan kondisi yang relatif baik. Dokter tidak menemukan pendarahan maupun memar pada otak korban. "Meski ada informasi kemungkinan retakan tulang tengkorak akibat benturan, kondisi tersebut bukan merupakan faktor utama yang mengancam keselamatan korban," jelss Ginting.
Sementara itu, polisi turun langsung ke SMP Negeri 6 Pekalongan untuk memberikan pengarahan kepada para siswa. Kapolsek Pekalongan Timur Kompol Tri Handayani, meminta para siswa menghentikan segala bentuk perundungan dan tidak melakukan aksi balasan.
"Kami juga telah mendatangi rumah sakit untuk memantau kondisi korban serta berkomunikasi dengan keluarga," ujar Tri Handayani.
Tri Handayani menuturkan pihak sekolah kemudian memanggil siswa yang terlibat beserta orang tua masing-masing.
Sekolah mengatakan orang tua siswa yang terlibat kontak fisik telah menyampaikan penyesalan dan menyatakan siap bertemu dengan keluarga F.
"Kami juga meminta keluarga korban fokus pada pemulihan kesehatan F. Selain penanganan medis, keluarga korban meminta adanya pendampingan untuk memulihkan kondisi psikologis F setelah mengalami kejadian tersebut," terang Tri Handayani.
Polisi memastikan akan ikut mengawal korban agar tidak kembali menjadi sasaran perundungan ketika nantinya kembali ke sekolah.
Hingga kini, kondisi F terus dipantau tim medis dan dilaporkan semakin membaik. Polisi bersama pihak sekolah masih memantau perkembangan kasus tersebut dan mengingatkan seluruh pihak agar tidak melakukan aksi balasan yang justru dapat memicu persoalan baru. (H-2)

















































