Ilustrasi pengguna kereta. Kini Stasiun Karet ditutup sementara selama proyek revitalisasi dan Integrasi Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman(Antara Foto)
SETELAH kebijakan pihak KAI Commuter untuk menutup sementara Stasiun Karet, Jakarta, anak Kereta (anker) istilah untuk para penumpang KRL yang terbiasa turun di stasiun Karet dan kini harus turun di Stasiun BNI City atau Sudirman Baru. Ari, 33, pekerja swasta di daerah Bendungan Hilir harus tetap menuju stasiun karet untuk memesan ojek online.
Meski harus berjalan kurang lebih 6 menit, hal itu tetap dilakukan karena berhemat dari tarif ojol yang bisa dua kali lipat karena harus memutar.
“Gimana ya mas, tadi cek kalau pesan di sana (BNI City) bisa Rp17 ribuan, kalau dari sini (Karet) ke kantor cuma Rp10 ribu,” bebernya ke Media Indonesia.
Hal berbeda diungkap Egi, 40, ia kaget dengan penutupan stasiun karet. Ia berharap revitalisasi bisa selesai cepat. Pasalnya hal itu membuat dirinya tidak efisien untuk bekerja.
“Ternyata jauh juga kalau jalan, ini jangan lama-lama sih kalau bisa,” ujarnya.
Jarak antara Stasiun BNI City dan eks-Stasiun Karet yang dinilai cukup jauh. Selain jarak, kondisi jalur pejalan kaki juga menjadi perhatian.
Egi juga mengeluhkan selasar atau lorong pejalan kaki yang dinilai terlalu sempit untuk menampung lonjakan penumpang KRL pada jam sibuk.
“Kalau lagi sibuk ini padat banget jalan ke Karet mas,” bebernya.
Commuter KAI menutup stasiun Karet hingga 31 Desember 2026 sebagai bagian dari proyek revitalisasi dan integrasi Stasiun Sudirman dengan stasiun BNI City. Penutupan stasiun tersebut dilakukan sejak hari ini (1/9). (H-4)


















































