Dedi Mulyadi Jamin Sayembara Begal tidak akan Timbulkan Konflik di Masyarakat

10 hours ago 1
Dedi Mulyadi Jamin Sayembara Begal tidak akan Timbulkan Konflik di Masyarakat Dedi Mulyadi (kanan) usai menghadiri kegiatan bersama Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) di Bandung, Jumat (24/7/2026).(MI/Bayu Anggoro)

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan hadiah kepada warga yang berhasil menangkap begal atau pelaku kriminal lainnya. Bagi yang menangkap dan menyerahkan ke kepolisian, Dedi memberikan imbalan antara Rp5 juta hingga Rp50 juta.

Menanggapi adanya kekhawatiran sejumlah pihak terkait kemungkinan warga yang berbondong-bondong keluar malam untuk memburu pelaku kejahatan, Dedi pun menjamin sayembaranya ini tidak akan memicu konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat.

Ia menegaskan, pemberian hadiah uang tunai itu terdapat mekanisme dan persyaratannya sehingga tidak akan disalahgunakan oleh warga. 

"Ya, nanti yang diberi hadiah itu yang sudah memenuhi kualifikasi dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres," kata Dedi di Bandung, Jumat (24/7).

Menurutnya, imbalan uang baru akan diberikan jika pelaku telah melalui proses hukum yang sah di kepolisian. Bahkan, Dedi secara tegas melarang adanya aksi main hakim sendiri dalam penangkapan tersebut.

Sehingga, tambahnya, pelaku yang diserahkan kepada pihak berwajib harus dalam kondisi wajar dan tidak mengalami luka berat akibat kekerasan fisik. 

"Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," katanya.

Dari Kantong Pribadi

Terkait sumber pendanaan sayembara tersebut, Dedi menyebutkan bahwa anggaran awal bersumber dari kantong pribadinya sebelum nantinya memanfaatkan pos anggaran lain jika diperlukan. 

"Enggak, dari saya dulu saja. Nanti kalau kewalahan baru," katanya.

Saat ditanya alasannya sering menggunakan memberikan sayembara, Dedi menilai tradisi masyarakat Indonesia sangat responsif terhadap sistem penghargaan dan perlombaan. Ia menyontohkan bagaimana budaya kompetisi di sekolah atau antarwilayah terbukti efektif meningkatkan motivasi.

"Karena begini, tradisi bangsa kita itu tradisi hadiah. Di sekolah, kalau ada ranking pertama dan diumumkan, belajarnya jadi rajin. Kemudian daerah, kalau dilombakan, juga jadi rajin," jelasnya.

Ia pun menyebut logika sederhana dalam kasus pencurian kendaraan bermotor. Alih-alih dihakimi secara brutal hingga merenggut nyawa, kehadiran sayembara senilai Rp10 juta bagi yang menyerahkan pelaku secara utuh diharapkan dapat meredam tindakan main hakim sendiri sekaligus menghidupkan kembali pos ronda malam.

"Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi," katanya.

Menanggapi kritik bahwa sayembara ini berpotensi menumbuhkan sikap pragmatis di kalangan warga yang berburu pelaku demi uang, Dedi balik bertanya mengenai realitas sosial yang ada saat ini. 

"Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai," katanya. (BY/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |