Ilustrasi--Pengawas meninjau pelajar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Aceh Barat saat mengikuti ujian Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tahun 2025 di sebuah warung kopi Kecamatan Arongan Lam Balek, Aceh Barat, Aceh, Senin (25/8/2025).(ANTARA/Syifa Yulinnas)
TRANSFORMASI digital di Indonesia terus menunjukkan tren positif yang ditandai dengan pemerataan infrastruktur dan peningkatan aktivitas ekonomi digital di berbagai wilayah. Laporan terbaru East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026, yang disusun bersama Katadata Insight Center, mengungkapkan bahwa daya saing digital nasional mengalami peningkatan konsisten.
Berdasarkan data laporan tersebut, sebanyak 37 dari 38 provinsi di Indonesia mencatat kenaikan skor daya saing digital. Selain itu, 47 dari 50 indikator penyusun indeks juga menunjukkan perbaikan signifikan.
Median skor EV-DCI nasional naik dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026. Jika ditarik garis sejak peluncuran perdana pada 2020, rata-rata skor daya saing digital provinsi telah melonjak lebih dari 50%.
Tantangan Kualitas SDM dan Kesenjangan Wilayah
Meski secara umum meningkat, laporan ini memberikan catatan kritis pada sektor Sumber Daya Manusia (SDM). Pilar SDM menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan skor sebesar 2,5 poin pada EV-DCI 2026. Penurunan ini mencakup indikator jumlah mahasiswa, dosen, program studi bidang digital, hingga indeks literasi digital masyarakat.
Kesenjangan antarwilayah juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Terdapat selisih skor hingga hampir 60 poin antara provinsi dengan daya saing tertinggi dan terendah. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah yang sudah maju berkembang jauh lebih cepat dibandingkan wilayah yang tertinggal.
| Median Skor EV-DCI 2026 | 42,2 (Naik dari 38,8) |
| Pilar SDM | Turun 2,5 poin |
| Pengguna Internet | 229,4 Juta Jiwa |
| Peningkatan Penjualan via Medsos | +20,7 Poin |
| Belanja R&D terhadap PDB | 0,3% |
Urgensi Talenta Digital di Era AI
Kebutuhan akan talenta digital yang mumpuni semakin mendesak seiring masuknya Indonesia ke era Kecerdasan Artifisial (AI). Saat ini, Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara dengan pengguna AI generatif terbanyak di dunia. AI diprediksi berpotensi menyumbang hingga 12% terhadap PDB Indonesia, atau setara US$366 miliar, jika didukung oleh SDM yang kompeten.
Namun, tantangan nyata terlihat pada distribusi kapasitas SDM. Skor SDM digital di Pulau Jawa tercatat 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan Sumatra dan Kalimantan, serta hampir tiga kali lipat dibandingkan Maluku dan Papua.
CEO MySkill, Angga Fauzan, menyoroti adanya skill gap antara lulusan pendidikan formal dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kurikulum pendidikan formal seringkali lambat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang sangat cepat.
"Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru. Menerjemahkan teknologi yang terus berubah menjadi informasi yang praktikal bagi masyarakat juga masih menjadi tantangan besar," ujar Angga. Ia menambahkan bahwa platform edutech dan bootcamp dapat menjadi jembatan untuk mempercepat upskilling talenta digital melalui pelatihan bersama praktisi senior.
Kolaborasi Menuju Inovasi Global
Melisa Irene, Partner East Ventures, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pengembangan talenta berjalan selaras dengan inovasi teknologi. Fokus utama ke depan adalah memperkuat kompetensi AI dan menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
"Dengan talenta yang kompetitif, Indonesia tidak hanya dapat menjadi pasar bagi teknologi digital, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global," pungkas Melisa. (Z-1)

















































