ilustrasi(Antara)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan kerusakan lingkungan atau hilangnya tegakan pohon. Fenomena tahunan ini merupakan bencana multidimensi yang memberikan beban berlapis bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak, mulai dari aspek kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan ekonomi rumah tangga.
Hal tersebut ditegaskan oleh Yuli Suryantika dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Pontianak dalam diskusi publik bertajuk Sudah Jatuh, Tertimpa Asap pada Kamis (10/9). Menurutnya, dampak yang dirasakan perempuan, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga penyandang penyakit kronis jauh lebih berat dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.
Perempuan sebagai Manajer Krisis Keluarga
Yuli menjelaskan bahwa ketika kabut asap mulai menyusup ke dalam ruang domestik, perempuan secara otomatis menanggung beban tambahan. Selain menjalankan peran rutin dalam rumah tangga dan bekerja, mereka harus menjadi garda terdepan dalam merawat anggota keluarga yang jatuh sakit akibat kualitas udara yang buruk.
“Perempuan menjadi manajer krisis keluarga. Pengeluaran bertambah untuk membeli masker dan obat-obatan, sementara pendapatan justru berkurang karena aktivitas ekonomi terhambat,” ujar Yuli. Selain itu, intensitas membersihkan rumah pun meningkat drastis demi meminimalisasi paparan debu sisa pembakaran.
Ancaman Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak
Dampak karhutla juga menyasar sektor pendidikan. Penutupan sekolah akibat kualitas udara yang berbahaya memaksa anak-anak kehilangan ruang belajar dan bermain. Bagi anak dengan gangguan pernapasan, risikonya jauh lebih fatal karena organ tubuh mereka yang masih dalam tahap perkembangan sangat sensitif terhadap paparan asap.
Yuli juga mengkritisi kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sering diambil saat sekolah ditutup. Menurutnya, PJJ bukan solusi instan karena adanya ketimpangan akses internet. “Internet yang belum merata menjadi risiko tersendiri. Anak dari keluarga dengan keterbatasan akses akan semakin tertinggal,” tuturnya.
Di wilayah perkotaan, tekanan ini diperparah dengan krisis air bersih, suhu panas ekstrem, hingga kenaikan harga pangan yang memicu gangguan kesehatan mental bagi para ibu yang harus mengelola keuangan keluarga di tengah situasi darurat.
Kehilangan 'Apotek' dan 'Dapur' Masyarakat Adat
Dampak karhutla juga dirasakan secara mendalam oleh masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada kelestarian hutan. Delly Sape dari Yayasan Arus Kualan mengungkapkan bahwa kebakaran di wilayah Simpang Hulu, Kalimantan Barat, masih terus terjadi dan mengancam eksistensi masyarakat Dayak.
Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sumber kehidupan yang menyediakan obat-obatan tradisional, bahan kerajinan seperti rotan dan bambu, hingga sumber pangan. “Ketika hutan terbakar, kami kehilangan apotek, dapur, perpustakaan sebagai ruang belajar, dan identitas kami,” tegas Delly.
Kondisi kesehatan warga di wilayah terdampak pun mulai menurun. Laporan di lapangan menunjukkan banyak warga, termasuk lansia dan anak-anak, mulai menderita radang tenggorokan, batuk, hingga sesak napas akut.
Desakan Pelibatan Kelompok Rentan
Menyikapi situasi ini, baik Yuli maupun Delly menekankan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya fokus pada pemadaman api di lapangan. Kebijakan pemerintah harus mencakup perlindungan sosial bagi perempuan dan anak, jaminan layanan kesehatan bagi kelompok rentan, serta dukungan ekonomi rumah tangga.
Delly mendesak agar masyarakat adat dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan dan teknis penanganan di lapangan. Masyarakat lokal dinilai memiliki pengetahuan mendalam mengenai topografi wilayah, akses sumber air, dan titik-titik rawan yang krusial dalam mitigasi kebakaran.
“Jangan hanya memadamkan api, maka selamatkan kehidupan. Yang kami inginkan adalah didengar, dilibatkan, diakui, dan diperkuat,” pungkas mereka. (E-3)








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)









