Ilustrasi(Dok AFP)
PEMIMPIN spiritual Buddha, Dalai Lama, menyampaikan doa dan belasungkawa mendalam bagi para korban banjir dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada Rabu (26/8) tersebut telah menewaskan sedikitnya 165 orang, sementara lebih dari 1.300 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Tragedi itu juga berdampak pada puluhan peziarah lintas negara yang tengah melakukan perjalanan spiritual menuju Gunung Kailash di Tibet.
"Saya berdoa untuk semua orang yang kehilangan nyawa, serta menyampaikan simpati dan belasungkawa yang tulus kepada keluarga yang berduka dan semua yang terdampak tragedi ini," kata Dalai Lama dikutip dari AFP.
Ia menyoroti peristiwa serupa yang pernah melanda kawasan tersebut di masa lalu. Dalai Lama menilai perlunya penanganan pada akar masalah bencana kawasan.
"Karena wilayah tersebut juga pernah mengalami bencana pada masa lalu, hal ini tentu merupakan gejala dari penyebab yang lebih dalam, baik perubahan iklim maupun faktor lainnya," ujar tokoh berusia 91 tahun tersebut.
"Saya berharap langkah tindak lanjut yang tepat dapat dilakukan, di mana memungkinkan, untuk membantu memastikan bencana seperti itu tidak terulang," imbuhnya.
Dampak masif bencana itu juga disuarakan oleh pemimpin Central Tibetan Administration (CTA), Penpa Tsering. Ia menyebut peristiwa memilu itu sebagai sebuah "katastrofe" yang membawa kehancuran luas.
Selain menghancurkan permukiman, banjir menyeret belasan peziarah yang terisolasi di area perbatasan.
Pemimpin spiritual Hindu asal India, Sadhguru (Jagdish Vasudev), mengonfirmasi bahwa 77 peziarah dari rombongan Isha Foundation berada di kantor imigrasi perbatasan Nepal-Tiongkok saat banjir menerjang.
"Secara harfiah, seluruh kelompok berada di dalam gedung tersebut. Ini merupakan peristiwa yang mengerikan dan luar biasa," tutur Sadhguru.
Kondisi medan yang rusak parah menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan korban di lokasi kejadian.
"Semua telepon mati, telekomunikasi terputus, jalan-jalan diblokir, kami tidak dapat pergi ke sana," lanjutnya.
Sadhguru menambahkan bahwa fasilitas imigrasi yang sempat digunakan para peziarah sepekan sebelumnya kini telah tersapu banjir bersama sebagian area permukiman warga.
Perjalanan ziarah tahunan menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar sendiri baru kembali dibuka untuk warga India pada 2025, setelah sempat terhenti sejak 2020. (AFP/Ndf/E-4)


















































